Dandy Koswaraputra
05 Oktober 2018•Update: 05 Oktober 2018
WASHINGTON
Gedung Putih memperkenalkan strategi kontra-terorisme baru Kamis yang dikatakannya "jauh lebih luas" daripada rencana mantan Presiden AS Barack Obama.
Strategi baru Presiden Donald Trump adalah yang pertama sejak Obama meluncurkan rencananya pada 2011.
Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis, kebijakan baru mengakui bahwa ada ideologi teroris yang sedang dihadapi AS.
“Kita berada dalam perjuangan ideologi. Kita tidak bisa mengatasi ancaman teroris dengan benar,” kata Bolton.
Dia mengatakan strategi baru mencerminkan dalam banyak aspek dari rencana Obama, seperti juga dari Presiden George W. Bush.
"Lanskap teroris hari ini lebih cair dan kompleks dari sebelumnya," kata Bolton.
"Meskipun kami telah berhasil melakukan serangan skala besar di tanah air sejak 2001, tapi belum cukup mengurangi ancaman teroris."
Rencananya berusaha untuk "membongkar" jaringan militan, dan "memutuskan" mereka dari sumber kekuatan mereka sambil mempertahankan tekanan pada organisasi untuk mencegah kemunculan kembali mereka.
Ini juga berusaha memprioritaskan "kemampuan non-militer," termasuk pencegahan perekrutan, dan upaya untuk mendorong kembali propaganda online, kata dia.
"Ini termasuk meningkatkan keterampilan dan sumber daya masyarakat sipil dan mitra non-tradisional untuk mengurangi upaya teroris untuk meradikalisasi dan merekrut orang di Amerika Serikat," katanya.
Penekanan laporan Bolton tersebut ditujukan kepada Iran di mana AS telah lama mengambil pendekatan hawkish ke Republik Islam tersebut.
Saat berbicara kepada wartawan, dia menyebut Teheran sebagai "bank sentral internasional terorisme" setelah revolusi 1979, dan mengatakan mendukung berbagai kelompok militan di wilayah itu "terus menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat dan kepentingan kita."