14 Juli 2017•Update: 14 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Duta Besar Turki untuk Indonesia, Sander Gurbuz, mengatakan, pemerintah Turki tidak perlu menutup sekolah yang terafiliasi dengan Gullen yang ada di luar negeri, termasuk sembilan sekolah Gullen di Indonesia.
Sebagaimana disampaikan otoritas Turki, lembaga yang berkaitan dengan Gullen terdapat di 150 negara termasuk Indonesia. Meskipun Gullen ditetapkan sebagai otak di belakang upaya kudeta tahun lalu dan sekolah tersebut dianggap sebagai salah satu penyokong utama pendanaan FETO, namun keberadaan sekolah tersebut di negara sahabat tidak bermasalah.
“Kita hanya meminta pemerintah negara sahabat termasuk Indonesia untuk memberikan perhatian khusus terhadap sekolah dan organisasi tersebut. Tentu kita tidak memiliki masalah dengan murid-murid yang sekolah di sana. Orang tua mereka menyekolahkan anaknya di sana karena menganggap sekolah tersebut memiliki sistem dan mutu pendidikan yang baik,” urainya.
Selain itu, juga tidak terdapat permasalahan dan pelanggaran hukum yang dilakukan sekolah-sekolah tersebut di negara lain seperti di Indonesia. “Sampai saat ini sekolah-sekolah tersebut masih benar keberadaannya sampai tiba waktunya mereka melakukan hal yang tidak terduga,” ia mengingatkan.
Menurutnya, sampai lima menit sebelum kudeta, masyarakat Turki sama sekali tidak mengira bahwa FETO akan melakukan hal tersebut. Namun faktanya, FETO membombardir gedung parlemen di Ankara.
“Sampai saat tersebut datang (tindakan yang tidak diperkirakan), tidak ada yang bisa dilakukan terkait jaringan FETO di luar negeri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan yang mereka lakukan.”
Sekolah terafiliasi Gullen memiliki guru yang mereka pilih, didik, dan latih serta mereka bayar. Sehingga tidak menutup kemungkinan apa yang mereka lakukan di Turki juga bisa dilakukan di negara lain atau mengulangi apa yang mereka lakukan tahun lalu di kemudian hari.