Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 Oktober 2018•Update: 03 Oktober 2018
Meltem Bulur dan Tevfik Durul
ANKARA
Turki pada Selasa kembali meminta ekstradisi untuk tiga anggota Organisasi Teror Fetullah (FETO) dari Kamboja.
Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu pada konferensi pers bersama dengan Wakil Perdana Menteri Kamboja dan Menteri Luar Negeri Prak Sokhonn, mengatakan "Kami telah mengulangi permintaan ekstradisi kami ke Kamboja mengenai masalah tiga anggota FETO."
"Kelompok teror ini adalah ancaman tidak hanya bagi Turki, tetapi setiap negara tempat mereka beroperasi."
Cavusoglu mengatakan FETO "menyusup di lembaga-lembaga negara dengan menggunakan sekolah piagam sebagai topeng, kemudian mencoba untuk mengendalikan politik di negara itu".
Dia mengatakan dia telah berbicara tentang operasi kelompok teror FETO dengan mitranya dari Kamboja dan mengatakan bahwa Turki siap mengambil alih sekolah yang dikendalikan FETO dengan Yayasan Maarif Turki.
FETO dan pemimpinnya di AS, Fetullah Gulen mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menewaskan 251 orang dan melukai hampir 2.200 orang.
Ankara juga menuduh FETO berada di belakang kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.
Cavusoglu juga menekankan perlunya memperkuat hubungan bilateral antara Turki dan Kamboja, mengatakan bahwa pertemuan ketiga Komisi Ekonomi Bersama (JEC) akan diadakan dalam beberapa hari mendatang.
Sokhonn mengatakan negaranya "bekerja sama erat dengan Turki" soal FETO.
"Sebagai teman, Kamboja akan terus mendukung Turki dalam operasinya melawan FETO," katanya.
Sokhonn menambahkan bahwa Perdana Menteri Hun Sen akan mengunjungi Turki pada akhir Oktober.
Dia mengatakan bahwa pembukaan kedutaan Turki di Phnom Penh pada 2013 telah "mengaktifkan" hubungan mereka.
"Kamboja juga akan membuka kedutaan besar di Ankara tahun depan," ungkapnya.