Faruk Zorlu
ANKARA
Turki pada Kamis mengecam resolusi "tidak realistis" oleh Parlemen Eropa terhadap Turki atas sengketa yang sedang berlangsung di Mediterania Timur.
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan keputusan yang yang diadopsi di Majelis Umum Parlemen Eropa semata-mata demi solidaritas di antara anggota UE dan melayani kepentingan "egois" oleh beberapa negara anggotanya.
Turki menegaskan resolusi itu "tidak dapat diterima" dalam banyak hal.
Sikap Parlemen Eropa yang bias dan tidak adil, serta interpretasi yang tidak sah dan sepihak terhadap hukum maritim yang tidak dibenarkan oleh pihaknya sendiri, telah merusak reputasi Parlemen Eropa, tambah pernyataan dari otoritas Turki itu.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa Parlemen Eropa, Uni Eropa, atau negara anggotanya tidak memiliki wewenang untuk menentukan perbatasan negara ketiga.
Pengambilan "keputusan bias" seperti itu tidak sesuai dengan niat baik dan akal sehat, imbuh pernyataan itu.
Anggota Parlemen Eropa mengadopsi resolusi pada Kamis yang menyatakan "solidaritas penuh" dengan Yunani dan otoritas Siprus Yunani terhadap tindakan Turki di Mediterania Timur.
Ketegangan di kawasan Mediterania Timur meningkat sejak Turki melanjutkan eksplorasi energi di Mediterania Timur bulan lalu, setelah Yunani dan Mesir menandatangani kesepakatan pembatasan maritim yang kontroversial, Yunani telah menolak isyarat niat baik Ankara untuk menghentikan kegiatan sebelumnya.
Turki berulang kali memperpanjang eksplorasi energi kapal penelitiannya Oruc Reis di suatu area di dalam landas kontinen Turki, yang terakhir diumumkan pada 31 Agustus, terakhir kali berlangsung hingga 12 September.
Turki secara konsisten menentang upaya Yunani untuk mendeklarasikan zona ekonomi eksklusif berdasarkan pulau-pulau kecil di dekat pantai Turki yang melanggar kepentingan Turki, negara yang memiliki garis pantai terpanjang di Mediterania.
Ankara juga menekankan sumber daya energi di dekat pulau Siprus harus dibagi secara adil antara Republik Turki Siprus Utara dan Siprus Yunani.
Di tengah ketegangan atas wilayah Mediterania dan eksplorasi energi, Turki berulang kali menekankan kesediaannya untuk memulai negosiasi tanpa prasyarat, berbeda dengan penolakan Yunani dalam beberapa pekan terakhir untuk memasuki dialog melalui NATO atau UE.
Pada Minggu, perdana menteri Yunani mengatakan dirinya siap untuk berbicara dengan Presiden Erdogan jika ketegangan antara kedua negara mereda.
Ankara secara konsisten menentang upaya Yunani untuk mendeklarasikan zona ekonomi eksklusif berdasarkan pulau-pulau kecil di dekat pantai Turki, melanggar kepentingan Turki, negara dengan garis pantai terpanjang di Mediterania.
Turki juga mengatakan sumber energi di dekat pulau Siprus harus dibagi secara adil antara Republik Turki Siprus Utara dan Siprus Yunani.
news_share_descriptionsubscription_contact
