Dwi Nur Arry Andhika Muchtar
19 Januari 2019•Update: 21 Januari 2019
Yusuf Hatip
BRUSSELS
UE mengatakan pada Jumat pertemuan antara menteri luar negeri Azerbaijan dan Armenia memberi "sinyal positif" untuk penyelesaian konflik Karabakh.
"[...] baru-baru saja di Paris pada 16 Januari 2019, [Menlu kedua negara] mengirimkan sinyal positif untuk penyelesaian secara damai konflik Nagorno-Karabakh," ujar juru bicara Komisi UE Maja Kocijancic dalam sebuah pernyataan.
Menteri Luar Negeri Azerbaijan Elmar Mammadyarov dan Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatsakanyan sepakat untuk melanjutkan negosiasi pada Februari mengenai konflik Karabakh dalam pertemuan empat jam pada Rabu di Paris.
Dilaporkan kedua menteri luar negeri bertukar pandangan mengenai pentingnya membangun pemahaman dan percaya diri.
"Uni Eropa mengharapkan implementasi yang nyata [...]," tulis pernyataan.
Menambahkan perdamaian akan menguntungkan semua orang dan "akan menolong Kaukasus Selatan untuk memenuhi potensinya."
Pertemuan di Paris dimediasi oleh Organisasi untuk Keamanan dan Kerja sama di Eropa (OSCE), Wakil Pimpinan Grup Minsk, Rusia, Stephane Visconti dari Prancis dan Andrew Schofer dari AS, menurut Kementerian Luar Negeri Azerbaijan.
Andrzej Kasprzyk, perwakilan ketua OSCE, juga hadir dalam pertemuan.
Karabakh - wilayah yang disengketakan oleh Azerbaijan dan Armenia - memisahkan diri dari Azerbaijan pada 1991 dengan dukungan militer dari negara tetangganya, Armenia, dan hingga saat ini proses perdamaian belum dilaksanakan.
Tiga resolusi Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB menyebut Karabakh sebagai bagian dari Azerbaijan.
Majelis Parlemen Dewan Eropa mengatakan kawasan itu diduduki oleh pasukan Armenia.
Pendudukan Armenia atas Nagorno-Karabakh menyebabkan ditutupnya perbatasan dengan Turki, yang memihak Azerbaijan dalam sengketa tersebut.