Rhany Chairunissa Rufinaldo
23 April 2020•Update: 24 April 2020
Bassel Barakat
ANKARA
Bahkan ketika India telah secara resmi memperingatkan warganya yang tinggal di Uni Emirat Arab (UEA) untuk berhenti menyalahkan Muslim atas penyebaran virus korona atau pandemi Covid-19, media sosial di negara-negara Arab tersulut cuitan Islamofobia oleh sejumlah warga India yang tinggal di negara Teluk itu.
Anggota keluarga kerajaan Arab bersama para intelektual bergabung dengan pengguna Twitter lainnya melampiaskan amarah mereka terhadap tindakan Islamofobia dan komentar permusuhan terhadap Muslim India.
Berbicara tentang pemimpin, Putri Hend al-Qassimi, anggota keluarga kerajaan UEA menegur seorang warga India yang bekerja di Dubai karena menargetkan Muslim dan menyalahkan Jamaah Tablig atas penyebaran virus.
Dia membagikan undang-undang UEA yang melarang kebencian dan mengatakan bahwa siapa pun yang secara terbuka rasis dan diskriminatif di UEA akan didenda dan dipaksa pergi.
Dia menyatakan kesedihannya atas kebencian yang mewarnai kehidupan sosial India belakangan ini.
“Beberapa tahun yang lalu, saya pergi ke India, mengenakan pakaian tradisional mereka, mengenakan kristal di dahi saya, yang disebut Al-Bandi untuk fotografi. Itu adalah kesenangan, makan, dan berinteraksi dengan orang-orang baik. Tapi saya sedih dengan kebencian yang mendorong India akhir-akhir ini, "tulis sang putri di Twitter.
Dia menekankan perlunya menolak kebencian dan menggantinya dengan cinta di muka bumi untuk hidup bersama.
Pertikaian itu dipicu oleh Saurabh Upadhyay, seorang warga India di Dubai, yang meminta umat Islam berhenti mencari cara untuk membela Jamaah Tablig dan meminta mereka untuk menerima kenyataan bahwa mereka adalah sumber pandemi.
Dia bahkan mendoakan agar Jamaah Tablig mati dan menggambarkan mereka sebagai teroris.
Dia kemudian didukung oleh warga India lainnya yang bekerja di wilayah Teluk. Namun, mereka semua sekarang telah menghapus cuitan kebencian itu setelah pengguna media sosial Arab mencaci mereka.
- Pengacara Kuwait mengutuk tindakan itu
Mengecam tindakan orang-orang India yang menyulut kebencian itu, Khalid al-Suwaifan, seorang pengacara Kuwait, mengatakan kekerasan di India bukanlah urusan internal negara itu, melainkan kejahatan terhadap kemanusiaan.
"Praktek keji rasisme dengan keheningan internasional dan absennya organisasi hak asasi manusia sedang terjadi," tulis dia.
“Di 53 negara Muslim, warga India yang kebanyakan beragama Hindu diperlakukan dengan kemanusiaan dan rasa hormat. Lihat bagaimana umat Islam diperlakukan di India?" cuit Abdurrahman al-Nassar seorang pegawai Muslim terkemuka.
Cendekiawan Saudi Abidi Zahrani mengusulkan untuk mengumpulkan daftar nama semua umat Hindu militan di negara Teluk yang terlibat dalam penyebaran kebencian terhadap Islam.
"Kumpulkan nama semua umat Hindu militan yang bekerja di GCC dan menyebarkan kebencian terhadap Islam dan Muslim atau Nabi Muhammad yang kita cintai," tulis dia menggunakan tagar #Send_Hindutva_back_home.
Ahmed al-Wahidah, seorang kolumnis Kuwait mengatakan melalui Twitter bahwa Komunitas internasional harus meminta pertanggungjawaban mereka yang mendukung kekerasan di India dan membawa mereka ke pengadilan.
Suhail Mohammad Al Zarooni, seorang pengusaha Emirat yang meraih pernghargaan Guinness World Record dua kali untuk koleksi lebih dari 20.000 mobilnya, mengatakan bahwa negaranya tidak dapat mendukung unsur apa pun yang tidak menghargai sentimen atau agama apa pun.
- India turun tangan
Menasihati komunitasnya, mantan utusan India untuk UEA Navdeep Suri memperingatkan bahwa UEA memiliki undang-undang yang kuat terhadap ujaran kebencian, yang berlaku untuk komentar menghina terhadap semua agama.
Dia mengatakan UEA adalah mitra terbesar ketiga India, sumber utama investasi asing langsung (FDI) dan menampung 3,4 juta orang India dan mengirim USD17 miliar uang setiap tahun.
"Hubungan bilateral antara kedua negara kuat, tetapi kontroversi yang tidak perlu ini tidak akan membantu," ujar dia.
Duta Besar India untuk Dubai Pavan Kapoor mengatakan diskriminasi bertentangan dengan tatanan moral kedua negara.
"India dan UEA berbagi nilai non-diskriminasi dengan alasan apa pun. Diskriminasi bertentangan dengan tatanan moral kita dan aturan hukum. Warga negara India di UEA harus selalu mengingat hal ini," cuti dia.