21 Juli 2017•Update: 22 Juli 2017
DOHA
Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS) yang bermarkas di Doha mengajak seluruh umat Muslim untuk menunjukkan solidaritas kepada mereka yang terkena dampak dari tindakan pengamanan Israel yang membatasi akses masuk ke Masjid Al-Aqsa, Kamis.
Pihak berwenang Israel menutup Al Aqsa dan membatalkan salat Jumat untuk pertama kalinya dalam hampir lima dekade, menyusul adu tembak pekan lalu yang menewaskan 3 warga Palestina dan 2 polisi Israel dekat situs suci di Jerusalem Timur.
Dalam pernyataan IUMS tertulis: “Kami mengajak seluruh umat Muslim untuk menjadikan hari Jumat sebagai ‘hari kemarahan’ melawan tindakan Zionis terhadap Jerusalem dan warga yang menetap di sana”.
IUMS juga menggagas “demonstrasi damai” di berbagai daerah di seluruh dunia untuk menunjukkan ketidaksetujuan terhadap Israel.
“Kami mengutuk keras pihak berwenang pendudukan Zionis yang telah melakukan tindakan kriminal dengan menutup Masjid Al-Aqsa untuk ibadah.”
Rabu, tentara Israel menembak 9 warga Palestina dan menangkap 4 lainnya selama aksi protes menentang penutupan Al-Aqsa. Aksi protes dimulai Senin setelah pemuka masjid mengajak umat untuk memboikot pemasangan detektor logam baru di gerbang masuk masjid.
Israel membela tindakannya karena menurut mereka tindakan pengamanan tersebut tidak ada bedanya dengan tindakan pengamanan di situs suci lainnya di seluruh dunia.
Israel menduduki Jerusalem Timur ketika Perang Timur Tengah 1967, kemudian menguasai kota tersebut sepenuhnya tahun 1980 dengan mengklaim Jerusalem sebagai ibukota “abadi” Yahudi – sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.
Suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristiani, Jerusalem adalah rumah bagi Masjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam.