Maria Elisa Hospita
07 Januari 2019•Update: 07 Januari 2019
Addis Getachew dan Seleshi Tessema
ADDIS ABABA, Ethiopia
Umat Kristen Ortodoks Ethiopia merayakan Hari Natal pada Senin, 7 Januari, yaitu sekitar dua pekan setelah umat Kristen di negara-negara Barat merayakan kelahiran Yesus pada 25 Desember.
Pendeta mengajak umat kristiani untuk berdoa dan bekerja memelihara perdamaian dan persatuan.
"Orang-orang, terutama kaum muda, harus bekerja untuk memelihara perdamaian," ujar Patriark Gereja Ortodoks Ethiopia Abune Mathias, saat menyampaikan khotbah di malam Natal.
Selama beberapa bulan terakhir, sejumlah insiden kekerasan berbasis etnis menyebabkan ratusan orang tewas di Ethiopia, sementara 2,7 juta orang terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka.
Pastor Zerhiun Degu, sekretaris jenderal Dewan Antaragama Ethiopia, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa semua lembaga agama di negara itu telah sepakat mendedikasikan dua bulan mendatang khusus untuk berdoa.
"Orang-orang Kristen dan Muslim akan berdoa untuk perdamaian, pengampunan, dan toleransi untuk mengakhiri momok kebencian dan kekerasan etnis yang telah mengancam perdamaian dan kohesi agama dan komunitas di Ethiopia," ujar Degu.
"Bagi orang Kristen Ethiopia, Natal adalah kesempatan untuk berdoa dan membahas cara mengatasi tantangan yang dihadapi bangsa [Ethiopia]. Kami yakin bahwa doa-doa kami akan dijawab," kata dia lagi.
Selama perayaan Natal, umat Kristen Ethiopia mengikuti kebaktian Natal di gereja, kemudiann sesudahnya berkumpul dengan keluarga untuk menyantap hidangan khas Natal, seperti daging mentah, sup ayam, roti, anggur madu tradisional atau Tej.