Ekip
21 April 2022•Update: 22 April 2022
BRUSSELS
Peningkatan kekerasan baru-baru ini di Tepi Barat menunjukkan kebutuhan mendesak untuk membuka kembali proses perdamaian konflik antara Israel dan Palestina, kata seorang pejabat Uni Eropa (UE).
Uni Eropa mengikuti peristiwa kekerasan baru-baru ini di Tepi Barat “dengan sangat prihatin,” kata Peter Stano, juru bicara utama Komisi Eropa untuk kebijakan luar negeri.
Uni Eropa menyerukan semua pihak menahan diri secara maksimal untuk menahan diri dari kekerasan dan menghindari segala bentuk provokasi, desak Stano.
Peristiwa terbaru menunjukkan “sekali lagi perlunya memulihkan cakrawala politik dan untuk membuka jalan menuju peluncuran kembali proses perdamaian sesegera mungkin antara Israel dan Palestina.”
Dia menambahkan bahwa blok tersebut bekerja dengan kedua belah pihak, serta mitra internasional untuk mendukung peluncuran kembali negosiasi damai ini.
Ketegangan telah meningkat di seluruh wilayah Palestina sejak awal April di tengah peristiwa penangkapan berulang kali oleh Israel di Tepi Barat yang diduduki.
Puluhan warga Palestina terluka pada Jumat lalu dalam bentrokan dengan pasukan Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.
Serangan pemukim Yahudi ke Al-Aqsa untuk merayakan liburan Paskah Yahudi selama seminggu telah semakin memperburuk situasi.
Masjid Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam. Orang-orang Yahudi menyebut daerah itu "Gunung Kuil", mengklaim bahwa itu adalah situs dari dua kuil Yahudi di zaman kuno.
Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Al-Aqsa berada, selama perang Arab-Israel 1967.
Negara ini mencaplok seluruh kota pada tahun 1980, dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.