Uni Eropa pada Selasa memperingatkan bahwa Gaza “tidak boleh menjadi krisis yang dilupakan,” seraya menegaskan kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut masih “sangat serius” di tengah kekurangan pangan yang berkepanjangan, malnutrisi yang meluas, dan sistem kesehatan yang terus terpuruk.
“Gaza tidak boleh menjadi krisis yang dilupakan, seperti yang Anda katakan. Perkembangan terus terjadi dan situasinya masih sangat mengerikan,” kata juru bicara Komisi Eropa, Eva Hrncirova, kepada wartawan dalam konferensi pers di Brussels saat menjawab pertanyaan Anadolu.
Hrncirova mengatakan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza masih “sangat tidak mencukupi dan tidak merata,” dengan akses yang berubah-ubah dari waktu ke waktu dan bantuan yang sering kali gagal menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Ia memperingatkan bahwa malnutrisi akut kini memengaruhi sebagian besar anak-anak di Gaza dan mengatakan bahwa meski ancaman kelaparan berhasil ditekan pada 2025, risiko tersebut belum sepenuhnya hilang.
“Kami berhasil menahan ancaman kelaparan tahun lalu di Gaza, tetapi itu tidak berarti kelaparan tidak bisa kembali terjadi,” katanya.
Menurut Hrncirova, kekurangan pasokan berkepanjangan membuat warga bergantung pada persediaan makanan yang sangat terbatas, dengan sedikit atau tanpa akses terhadap daging, sayuran segar, dan buah-buahan — kondisi yang menurutnya semakin memperburuk kesehatan masyarakat.
Ia juga menggambarkan memburuknya kondisi sanitasi, dengan anak-anak bermain di dekat tumpukan besar sampah karena sistem pengangkutan limbah sudah tidak lagi berfungsi.
Sistem layanan kesehatan juga terdampak parah, dengan rumah sakit dan tenaga medis kekurangan peralatan dasar untuk merawat pasien, tambahnya.
Hrncirova mengatakan sejumlah perlengkapan medis, termasuk kaki palsu dan stent, tidak dapat masuk ke Gaza karena dikategorikan sebagai barang dual-use atau barang yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Akibatnya, sebagian pasien harus menunggu evakuasi untuk mendapatkan perawatan.
Juru bicara tersebut juga mengatakan krisis Gaza menunjukkan perlunya pembenahan sistem kemanusiaan internasional.
“Contoh Gaza menjadi contoh yang sangat jelas mengapa kita perlu melakukan pembaruan dan reformasi sistem kemanusiaan, karena sistem yang pada dasarnya dirancang setelah Perang Dunia II tidak benar-benar memperhitungkan krisis berkepanjangan seperti ini,” kata Hrncirova.
“Kita perlu mereformasi dan menghadirkan elemen-elemen baru dalam sistem kemanusiaan global,” tambahnya.
Komisi Eropa dijadwalkan mempresentasikan komunike mengenai reformasi bantuan kemanusiaan pada Rabu, kata Hrncirova.