31 Agustus 2017•Update: 31 Agustus 2017
Andrew Wasike
NAIROBI, Kenya
Seorang pejabat pemerintahan Kenya pada Rabu mengatakan pemimpin perusahaan boleh memberikan hari libur bagi karyawannya yang beragama Islam untuk merayakan Idul Adha.
Menteri Dalam Negeri Fred Matiang'i mengatakan 1 September menjadi hari libur bagi umat Muslim namun mereka yang beragama lain tidak boleh mangkir dari pekerjaan.
"Penganut agama Islam akan merayakan hari besar itu dan perusahaan harus memperbolehkan mereka tidak masuk kerja; namun bagi yang non-Muslim ini menjadi hari kerja normal," kata Matiang'i, yang menambahkan bahwa adanya rencana untuk menjadikan hari raya Islam libur nasional.
Menurut data pemerintah, Kenya memiliki populasi sebesar 48 juta jiwa dan komunitas warga Muslim adalah 12% dari itu. Dewan Besar Warga Muslim Kenya memperkirakan ada sekitar 13 juta umat Islam di negara tersebut.
Sheikh Hamisi Mungai, ketua Dewan Imam dan Pengkhotbah Kenya, berterima kasih pada pemerintah namun menyerukan agar semua warga Kenya bersatu:
"Kami berharap tahun ini Idul Adha menjadi hari libur bagi semua warga Kenya agar kita bisa merayakannya bersama saudara-saudara kita. Ini harus berubah."
Beberapa warga Kenya menyatakan pendapat mereka di media sosial dan mengatakan pemerintah mendiskriminasi mereka yang non-Muslim.
Satu pengguna Twitter bercuit: "Mengapa Kenya satu-satunya negara di Afrika Timur yang Idul Adha tidak menjadi hari libur nasional?"