Maria Elisa Hospita
15 Februari 2021•Update: 16 Februari 2021
Alaattin Doru, Yusuf Ozcan, Ali Murat Alhas
PARIS
Para demonstran berkumpul di Paris pada Minggu untuk menolak rancangan undang-undang yang dianggap diskriminatif terhadap Muslim.
Mereka berkumpul di Trocadero Square untuk memprotes RUU yang dikenal sebagai Charter of Republican Values.
Hanane Loukili, salah satu pengunjuk rasa, mengungkapkan kepada Anadolu Agency bahwa dia adalah salah satu korban Islamofobia di Prancis.
Dia menuturkan bahwa sekolah yang dikelolanya mendadak ditutup pada November lalu dengan alasan tidak memenuhi standar keamanan.
Keltouma, demonstran lainnya, mengatakan bahwa sekolah yang ditutup itu inklusif dan hak dasar para siswa untuk mendapatkan pendidikan telah dirampas.
Olivia Zemor, kepala EuroPalestine, sebuah asosiasi pro-Palestina, mengatakan undang-undang yang diusulkan membuka jalan bagi situasi yang lebih berbahaya karena berpotensi menempatkan publik di bawah kendali dan pengawasan.
Menurut Zemor, Prancis sedang mengalami krisis sosial dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan Muslim dijadikan sebagai kambing hitam selama periode tersebut.
Tahun lalu, RUU itu diperkenalkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk melawan "separatisme Islam".
Macron pun dikritik karena menargetkan komunitas Muslim dan memberikan pembatasan di hampir setiap aspek kehidupan mereka.
RUU itu juga melarang pasien memilih dokter berdasarkan jenis kelamin karena alasan agama atau alasan lain, serta mewajibkan "pendidikan sekularisme" bagi semua pejabat publik.