Dildar Baykan
NEW YORK
Washington Post pada Rabu malam menerbitkan kolom terakhir Jamal Khashoggi, jurnalis yang hilang di Konsulat Saudi di Istanbul awal bulan ini.
Dalam artikel berjudul “Apa yang paling dibutuhkan dunia Arab adalah kebebasan berekspresi,” Khashoggi menulis tentang kebebasan pers di dunia Arab.
Dia menulis bahwa setelah melihat laporan "Kebebasan di dunia 2018" oleh organisasi non-pemerintah Freedom House yang berbasis di Amerika Serikat (AS), kesadarannya tergugah.
"Hanya ada satu negara di dunia Arab yang telah diklasifikasikan sebagai 'bebas'. Negara itu adalah Tunisia. Yordania, Maroko, dan Kuwait berada di urutan kedua, dengan klasifikasi 'bebas sebagian'. Negara-negara lain di dunia Arab diklasifikasikan sebagai 'tidak bebas'."
“Akibatnya, orang Arab yang tinggal di negara-negara ini tidak tahu atau salah informasi. Mereka tidak dapat berbicara secara bebas, apalagi berdiskusi di depan umum, tentang hal-hal yang mempengaruhi wilayah tersebut dan kehidupan sehari-hari mereka. Narasi yang dikelola negara mendominasi jiwa publik, dan sementara banyak yang tidak mempercayainya, mayoritas besar penduduk menjadi korban narasi palsu ini. Sayangnya, situasi ini tidak mungkin berubah,” tulis Khashoggi.
Dia menekankan bahwa dunia Arab membutuhkan versi modern dari media transnasional lama sehingga warga dapat memperoleh informasi tentang peristiwa global.
“Lebih penting lagi, kita perlu menyediakan platform untuk suara Arab. Kami menderita kemiskinan, salah urus dan pendidikan yang buruk. Melalui penciptaan forum internasional independen, terisolasi dari pengaruh pemerintah nasionalis yang menyebarkan kebencian melalui propaganda, orang-orang awam di dunia Arab akan mampu mengatasi masalah struktural yang dihadapi masyarakat mereka." tambahnya.
Di atas kolom itu, Washington Post menerbitkan sebuah surat dari editor Global Opinions, Karen Attiah.
Dia menulis bahwa dia menerima kolom ini dari penerjemah dan asisten Jamal Khashoggi sehari setelah Jamal dilaporkan hilang di Istanbul.
“Washington Post menahan penerbitannya karena kami berharap Jamal akan kembali, sehingga dia dan saya bisa mengeditnya bersama. Sekarang saya harus menerima fakta bahwa itu tidak akan terjadi." tulis Attiah.
“Ini adalah tulisan terakhirnya yang akan saya edit untuk Washington Post. Kolom ini dengan sempurna merangkum komitmen dan semangatnya untuk kebebasan di dunia Arab. Kebebasan yang sepertinya mempertaruhkan hidupnya. Saya akan selamanya bersyukur dia memilih Washington Post sebagai rumah jurnalistik terakhirnya satu tahun lalu dan memberi kami kesempatan untuk bekerja sama,” tambahnya.
Khashoggi telah lama dikhawatirkan terbunuh setelah dia masuk ke gedung konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober dan tidak pernah terlihat keluar
Di hari yang sama ketika Khashoggi menghilang, 15 warga Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat sementara dia berada di dalam, kata sumber kepolisian Turki.
Semua individu yang diidentifikasi tersebut telah meninggalkan Turki.
news_share_descriptionsubscription_contact
