Iqbal Musyaffa
18 Oktober 2017•Update: 18 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Aksi boikot negara-negara teluk terhadap Qatar diakui oleh anggota Kamar Dagang Qatar Mohammed Sultan Al-Jaber merupakan goncangan yang besar bagi keadaan politik, ekonomi, serta sosial Qatar.
“Tapi dengan adanya boikot tersebut justru membuat kami lebih kuat,” tegas dia, Rabu.
Karena aksi boikot itu pula yang membuat pemerintah Qatar lebih membuka dan mempermudah akses kepada swasta untuk berpartisipasi membangun negeri.
“Pemerintah juga kini lebih mendengarkan sektor swasta,” tambah dia.
Regulasi yang disediakan oleh pemerintah Qatar saat ini menurut dia juga semakin mempermudah pengusaha swasta untuk berpartisipasi, termasuk pengusaha swasta dari luar negeri seperti Indonesia.
Qatar terus giat mempromosikan diri sebagai negara tujuan investasi yang tepat.
“Di saat kami diboikot, negara Asia lain seperti Indonesia menggunakan pendekatan dari hati dan berbeda kepada kami,” ungkap dia.
Di balik krisis politik di Teluk yang masih belum reda, tambah Al-Jaber, tidak membuat Qatar berpangku tangan.
Justru, Qatar tetap giat membangun negeri khususnya menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2022 dengan Qatar sebagai tuan rumah.
“Alhamdulillah dalam dua tahun ke belakang kami lebih banyak membangun infrastruktur, khususnya pelabuhan dan bandara,” ujar dia.
Aksi boikot yang dihadapi Qatar, menurut Wakil Ketua Tetap Kadin bidang Timur Tengah dan negara-negara OKI Mohamad Bawazeer, justru memberikan peluang bagi pengusaha Indonesia untuk masuk berinvestasi.
“Tapi bukan berarti kita oportunis. Boikot ini justru semakin memperkuat hubungan kedua negara,” jelas dia.
Menurut Bawazeer, Indonesia merupakan negara yang fleksibel untuk melakukan investasi ataupun kerja sama ekonomi lainnya dengan negara-negara di Timur Tengah, karena tidak memiliki masalah dengan satu negara pun di kawasan tersebut.
“Namun kita masih sangat sedikit gerakannya ke sana,” kesah dia.
Oleh karena itu, peluang investasi di Qatar menurut dia sangat memungkinkan dan menjanjikan karena kondisi politik di sana tidak seperti yang digambarkan banyak media.
Meski begitu, Kadin Indonesia tetap memperhitungkan faktor risiko yang ada untuk berinvestasi di Qatar.
“Tapi kita tidak mengedepankan itu. Kalau takut risiko, tidak akan pernah maju,” tegas dia.