Megiza Asmail
BALI
Taman Sukasada atau yang lebih akrab dengan sebutan Taman Ujung oleh warga Bali mendadak sepi dari pengunjung. Di taman yang dikenal sebagai tempat peristirahatan Raja Karangasem I Gusti Bagus Jelantik ini tak lagi terlihat wara-wiri wisatawan.
Pasca Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengumumkan kondisi Gunung Agung memasuki fase kritis, taman yang dibangun sejak 1901 ini ternyata langsung kehilangan wisatawan.
Untuk mengantisipasi terjadinya letusan, pemerintah memang sudah meminta penduduk di sekitar lereng Gunung Agung mengungsi. Radius 12 kilometer dari puncak gunung juga sudah disterilkan.
Pemerintah pusat maupun daerah Bali bersiaga sejak dini. Letusan Gunung Agung pada 53 tahun lalu yang menewaskan lebih dari 1500 orang tak ingin menjadi catatan gelap yang terulang kembali.
Sayangnya, beberapa obyek wisata di wilayah bagian timur Bali harus lebih dulu mengalami hari-hari yang ‘gelap’. Jumlah turis yang tiba-tiba merosot membuat obyek wisata di Kabupaten Karangasem terlihat lengang. Salah satunya Taman Ujung.
Tempat wisata yang berjarak 31,8 kilometer dari lereng Gunung Agung ini sudah kehilangan tamu sejak Selasa, 26 September lalu. Kadek Sri, salah satu petugas loket masuk Taman Ujung, bahkan menyebut hari Selasa itu obyek wisata seluas 10 hektar ini sepi total.
“Kemarin itu ada berita Taman Ujung dan Taman Tirtagangga ditutup karena Gunung Agung, penghasilan kita langsung turun, sepi sekali,” katanya ketika ditemui Anadolu Agency, Rabu.
Dia bercerita, Taman Ujung memang lebih banyak didatangi oleh wisatawan asing dibanding lokal. Dibanding dengan hari yang sama pada pekan lalu, pengelola Taman Ujung mencatat penurunan terjadi hampir 80 persen.
“Hari Rabu pada pekan lalu, tamu asing kami sampai 247 orang. Hari ini, sampai pukul 15.30 cuma ada 51 orang,” kata Kadek Sri. Dia menyebut, turis asing yang berkunjung ke Taman Ujung pada sepekan belakang kebanyakan berasal Prancis atau Jerman.
Kadek Sri bercerita pihaknya telah mendengar soal kenaikan status Gunung Agung dari level 3 ke level 4 sejak Jumat malam. Keesokan harinya, jumlah wisatawan asing yang datang ke Taman Ujung langsung melorot.
“Besok hari setelah dikabarkan status Awas, wisatawan asing yang datang ke sini hanya 144 orang. Padahal waktu Sabtu pekan sebelumnya, kami catat turis asing datang sampai 264 orang,” sebutnya.
Meski jumlah turis di Taman Ujung tercatat menurun drastis, namun masih ada warga asing yang datang dan mengaku tak terpengaruh dengan pemberitaan yang mengabarkan kondisi Gunung Agung yang sudah Awas.
Salah satunya Sandy, 47, warga negara Amerika yang terbang dari Australia untuk mendatangi Pulau Dewata. Bersama suami dan dua orang anaknya, Sandy mengaku telah mendengar tentang peringatan yang dikeluarkan untuk warga asing yang akan berkunjung ke Bali.
“Kalau khawatir sudah pasti. Tapi kami tetap excited. Mudah-mudahan saja gunungnya hanya mengeluarkan asap, jangan sampai meletus,” kata dia.
Sandy mengatakan, sejak tiba di tempatnya menginap di kawasan Candidasa, keluarganya sudah beberapa kali merasakan gempa. Baginya, guncangan dari perut bumi itu bukan masalah yang besar.
“Tempat menginap kami dekat pantai. Tapi suami saya kemarin tetap main snorkeling,” ujarnya.
Tiba di Bali pada akhir pekan lalu, membuat Sandy pun sempat menyaksikan langsung kondisi pengungsi di posko. Mengetahui kondisi ribuan penduduk Bali sudah diungsikan, dia mengaku, tidak bisa membuat keluarganya hanya berpikir untuk bersenang-senang di Bali.
Jatah anggaran liburan keluarga pun telah dipotongnya untuk menyumbang kepada 50 orang pengungsi yang mereka temui.
“Kami memang senang bisa ke Bali. Kami sudah lama mendengar tentang Bali dan baru punya kesempatan datang kali ini. Tapi kami tidak bisa begitu saja datang dan bersenang-senang ketika tahu di sini sedang ada masalah. Makanya kami kemarin kasih sumbangan ke pos pengungsi dekat penginapan,” ungkap Sandy.

Di tempat lain, perkara kehilangan tamu juga dirasakan oleh para pengrajin kain ikat di Desa Tenganan. Satu-satunya tempat di Bali yang memproduksi kain Gringsing ini padahal berjarak sekitar 41 kilometer dari Gunung Agung.
I Wayan Widya, pemilik toko kain Agus Shop mengatakan, sebelum kondisi Gunung Agung mengkhawatirkan, ada 30 mobil carteran yang disewa wisatawan asing yang datang ke Desa Tenganan per harinya. Namun sejak awal pekan, jumlah tersebut sontak anjlok.
“Biasanya 30 mobil masuk bawa wisatawan asing yang kebanyakan dari Eropa. Tapi berapa hari ini, paling banyak 10 mobil yang masuk ke sini,” kata Wayan Widya.
Dia bercerita, sepanjang dia membuka usaha sejak 2001, toko kerajinannya baru merasakan keramaian pengunjung pada 2008. Kini, Wayan Widya pun harus mendadak kehilangan turis yang biasa meriuhkan desanya.
“Kalau ada gempa atau kalau sampai Gunung Agung meletus, ya kami mau bagaimana lagi. Pemasukan pasti hilang. Kalau buat beli beras nanti mungkin masih cukup, tapi untuk kebutuhan makanan yang lain paling kami minta dengan warga desa,” sebutnya.
Desa Tenganan Dauh Tukan merupakan desa kecil yang berada di tengah-tengah gunung. Permukiman yang juga dikenal sebagai desa tua ini memang tidak masuk dalam jalur lahar.
Warga desa satu-satunya yang 100 persen berisi umat Hindu namun tak mengenal kasta ini pun sudah membuat Balai Banjar mereka sebagai tempat mengungsi. Sampai saat ini sudah ada 192 jiwa yang ditampung di Desa Tenganan.
news_share_descriptionsubscription_contact

