İqbal Musyaffa
21 Desember 2017•Update: 21 Desember 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) pada akhir pekan lalu memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate tetap di angka 4,25 persen guna mengantisipasi gejolak ekonomi global dan menjaga stabilitas makroekonomi, sistem keuangan, serta pemulihan ekonomi domestik.
Bank sentral menyatakan alasan suku bunga acuan bertahan pada level 4,25 persen sejak November 2017 – setelah sebelumnya cencerung terus turun – untuk mengantisipasi kenaikkan suku bunga bank sentral A.S. The Fed yang kemungkinan terjadi pada akhir Desember tahun ini dan awal 2018.
“Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global terkait normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju dan risiko geopolitik,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman mengatakan Bank Indonesia baru-baru ini.
Jika The Fed menaikkan suku bunga acuannya maka kemungkinan akan ada aliran dana keluar dari Indonesia, jika Bank Indonesia tidak dapat mengelola tinggat suku bunga yang tetap menarik bagi investor, kata dia.
Sementara itu, menurut Agusman, perekonomian domestik terus menunjukkan perbaikan dan dalam taraf pemulihan dengan sumber pertumbuhan ekonomi berasal dari investasi dan konsumsi.
Bank sentral juga menetapkan suku bunga deposit facility tetap 3,5 persen dan lending facility 5 persen yang sudah berlaku sejak 15 Desember Lalu.
BI memandang pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh sebelumnya telah memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik di tengah stabilitas makroekonomi yang semakin baik, kata Agusman.
Menurut dia, Bank Indonesia juga tetap mewaspadai risiko dari dalam negeri terutama terkait konsolidasi korporasi yang terus berlanjut dan intermediasi perbankan yang belum kuat.
Bank Indonesia akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.
“Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama Pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tambah Agusman.
Bank Indonesia memandang bahwa di tengah berlangsungnya perbaikan ekonomi global dan terjaganya stabilitas perekonomian domestik terbuka peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan melalui penguatan pelaksanaan reformasi struktural.
“Pemulihan ekonomi Indonesia masih belum merata,” ujar Agusman.
Menurut BI, pertumbuhan ekonomi didukung oleh peningkatan ekspor komoditas yang selanjutnya mendorong peningkatan investasi nonbangunan, khususnya pada korporasi yang berbasis komoditas.
“Stimulus fiskal oleh pemerintah terkait pembangunan proyek infrastruktur juga mendorong investasi bangunan,” lanjut dia.
Investasi pada sektor-sektor nonkomoditas juga masih belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Konsumsi rumah tangga masih tumbuh terbatas khususnya pada belanja makanan dan pakaian disertai pergeseran pola konsumsi ke leisure, ujar Agusman.
“Selain itu juga terjadi preferensi untuk menunda konsumsi pada masyarakat golongan menengah atas,” kata dia.
Pada 2018, BI melihat pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik bersumber dari lebih meratanya investasi, berlanjutnya stimulus fiskal Pemerintah, dan meningkatnya ekspor sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global.
Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2018 diperkirakan meningkat pada kisaran 5,1-5,5 persen.