Muhammad Nazarudin Latief
03 Januari 2018•Update: 03 Januari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Bumbu-bumbu kemasan khas Indonesia kian agresif menembus pasar Arab Saudi.
Ini ditandai dengan PT Ikafood Putramas sebagai produsen bumbu masak Kokita dan PT Agro Tama Abadi sebagai pemilik merek dagang Pring Mas yang menggelar pertemuan dengan pengusaha hotel, restoran dan katering di Jeddah akhir tahun lalu.
Wakil Kepala Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC) Jeddah Muchamad Syahran Bhakti mengatakan, pihaknya ingin menguji permintaan pasar Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.
Berbagai produk dari kedua merek dagang tersebut mengandung bumbu khas Indonesia seperti bumbu rujak, bumbu pecel, dan sate. Juga aneka sambal seperti sambal matah, sambal hijau, sambal bajak, sambal bawang, dan sambal terasi, dan lain-lain.
Selain itu, bumbu yang tak bercabai akan dipasarkan untuk konsumsi jamaah haji dan umrah.
"Haji dan umrah yang melarang penggunaan cabai," ujar dia, Rabu.
Produk-produk kedua bumbu instan dijual di toko-toko Indonesia di berbagai kota Arab Saudi seperti Jeddah, Makkah, Madinah, dan Riyadh.
"Kokita ini sudah masuk Arab Saudi, sudah mencapai 1 kontainer per bulan dan diharapkan terus meningkat," ujar Syahran.
Menurut data Kementerian Perdagangan (Kemendag) selama lima tahun terakhir, nilai ekspor Indonesia dengan kode HS-21 (Miscellaneous edible preparations) termasuk bumbu masak terus meningkat.
Pada 2015, produsen bumbu masak asal Indonesia mengirim produk senilai USD14,4 juta dan naik pada 2016 menjadi senilai USD15,7 juta.
Meski demikian, kata Syahran, Indonesia baru tercatat sebagai negara pengekspor ke-22 produk HS-21 ke negara tersebut.
Jumlahnya masih kalah dengan Irlandia (USD369,5 juta), Amerika Serikat (USD129,5 juta), Uni Emirat Arab (USD118,5 juta), Mesir (USD77,6 juta), dan Denmark (USD72,5 juta).
Sebelum kedua perusahaan tersebut, pada Agustus 2017, PT Sasa mengekspor bumbu masak senilai USD13.200 berupa tepung bumbu ala ayam krispi, tepung bakwan, tepung pisang goreng, kaldu ayam, dan kaldu sapi.