İqbal Musyaffa
14 Maret 2019•Update: 14 Maret 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ekonom menjelaskan defisit transaksi berjalan (CAD) yang masih menjerat Indonesia bukan masalah bagi perekonomian.
Mantan Menteri Keuangan era Presiden SBY Chatib Basri menjelaskan CAD normal terjadi pada negara yang sedang membangun. Pada 2018 sebesar USD31 miliar atau 2,98 persen dari PDB.
“Karena sedang membangun, suka tidak suka kita harus impor (bahan baku dan bahan modal),” jelas dia dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Chatib menjelaskan pada sekitar tahun 1980 China juga mengalami defisit transaksi berjalan sebesar 10 persen sementara Singapura pernah mengalami CAD hingga 12 persen sebelum perekonomiannya melaju hingga saat ini.
“Yang harus dijawab sebenarnya adalah bagaimana dengan adanya CAD ini rupiah tetap stabil,” lanjut Chatib.
Menurut dia, pada era Presiden Soeharto CAD Indonesia pernah berada pada level 5 persen, namun nilai tukar rupiahnya tetap stabil. Hal ini karena pembiayaan lebih banyak berasal dari penanaman modal asing untuk membangun pabrik da industri sehingga modal tersebut tetap berada di Indonesia.
“Berbeda dengan modal asing yang masuk lewat portofolio karena bisa keluar kapanpun dari Indonesia,” imbuh dia.
Dia mengatakan Indonesia harus membuat kebijakan agar aliran modal asing yang masuk melalui portofolio dapat bertahan lama di Indonesia. Kebijakan tersebut bisa berupa insentif apabila portofolio asing diinvestasikan kembali di Indonesia dan tidak dibawa pulang.
“Kemudian untuk investor yang membawa pulang dananya bisa dikenai pajak,” jelas Chatib
Chatib mengatakan kebijakan ini diperlukan karena pembiayaan Indonesia lebih banyak berasal dari portofolio. Pada 2017 misalnya, modal yang masuk melalui portofolio mencapai USD20,6 miliar sementara yang masuk melalui penanaman modal asing sebesar USD19,4 miliar.
Menurut dia, 25 persen modal asing masuk melalui obligasi global dan 75 persen masuk dalam obligasi rupiah. Akan tetapi, 35 hingga 40 persen obligasi dipegang oleh nonresident yang suatu saat pasti akan membawa pulang dananya.
“Jadi lebih banyak aliran modal yang bisa dibawa pulang investor,” tambah dia.