İqbal Musyaffa
31 Agustus 2018•Update: 31 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ekonom Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi global masih akan melambat tahun depan akibat proyeksi pertumbuhan ekonomi AS melemah.
Menurut Ekonom Senior Bank Mandiri Andri Asmoro, proyeksi pertumbuhan ekonomi AS yang dikeluarkan IMF untuk tahun 2019 sebesar 2,7 persen akan melambat pada 2020 menjadi 1,9 persen dan 1,4 persen pada tahun 2023.
“Begitu pun dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang mengalami tren perlambatan pada 2020 mendatang,” lanjut Andri dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis.
Pada 2019,kata dia, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diproyeksikan sebesar 6,4 persen dan melemah menjadi 6,3 persen tahun 2020 hingga terus turun ke angka 5,5 persen pada 2023.
“Sementara ekonomi global tumbuh stagnan sebesar 3,9 persen tahun depan dan melemah hingga 3,7 persen tahun 2023,” urai dia.
Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi global, menurut Andri, menjadi tantangan bagi perekonomian negara berkembang. Suku bunga pun mulai meninggalkan tren suku bunga rendah.
Suku bunga the Fed pada tahun depan, menurut Andri, akan menjadi 3,25 persen dan pada 2020 menjadi 3,5 persen.
Langkah menaikkan suku bunga juga diperkirakan akan dilakukan oleh European Central Bank yang akan menaikkan suku bunga dari 0 persen pada tahun ini menjadi 0,15 persen tahun depan dan kembali naik menjadi 0,75 persen di 2020, tambah dia.
“Bank of Japan juga mulai menaikkan suku bunganya dari -0,1 persen ke nol persen,” lanjut Andri.
Begitu pun juga dengan Bank Indonesia, kata Andri, akan melakukan respons serupa dengan menaikkan suku bunga untuk menjaga aliran modal masuk.
Pada tahun 2019 suku bunga acuan BI diperkirakan akan menjadi 6,5 persen, tambah dia.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi global, menurut Andri, juga akibat dari harga komoditas yang tumbuh stagnan di tahun 2019 hingga 2021.
Kemudian, dampak dari perang dagang juga turut andil pada perlambatan, ujar dia.
“Indonesia juga akan merasakan dampak dari perlambatan ekonomi global, termasuk akibat dari perang dagang,” lanjut Andri.
Pasar ekspor Indonesia, menurut Andri, akan sangat terpengaruh oleh perang dagang tersebut karena Tiongkok dan AS merupakan mitra ekspor utama Indonesia dengan porsi masing-masing 13,2 persen dan 10,6 persen.
“Kalau kedua negara ini mengalami perlambatan ekonomi berkepanjangan akibat perang dagang, ekspor Indonesia akan sangat terdampak,” jelas Andri.
Dengan total porsi ekspor Indonesia hingga 23,8 persen ke kedua negara tersebut, Andri menganggap sulit untuk mencari pasar nontradisional yang dapat memiliki porsi ekspor sebesar itu.