Muhammad Latief
15 Agustus 2017•Update: 16 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pasar ekspor Indonesia masih didominasi tiga negara pasar tradisional, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang. Begitu pemaparan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, Selasa.
Hal ini, menurutnya, harus diimbangi dengan pengembangan pasar-pasar baru untuk memasarkan produk unggulan Indonesia.
“Ketergantungan ekspor kita pada negara tujuan utama sangat besar hingga 33,62 persen. Kita harus perluas pasar ekspor ke pasar non tradisional,” ujar Suhariyanto. Saat ini, pemerintah sudah menjajal potensi ekspor ke Afrika Selatan, Amerika Latin, Qatar, dan Turki.
Secara umum, kata Suhariyanto, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2017 mengalami defisit hingga USD 270 juta. Padahal, sebulan sebelumnya masih ada surplus perdagangan sebesar USD 1,63 miliar.
“Tapi secara umum secara kumulatif Januari-Juli neraca kita menggembirakan, surplus USD 7,39 miliar,” ujarnya sembari menyebutkan bahwa surplus datang dari sektor non migas.
Namun, Suhariyanto berkata defisit ini bukan hal untuk dicemaskan, karena hanya menggambarkan pergerakan bulanan saja, dan bukan faktor yang akan bertahan lama. “Ini karena ada defisit pada bidang migas yang cukup besar, yaitu mencapai USD 604 juta,” sebut dia.
Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Juli mencapai USD 13,62 miliar atau meningkat 16,83 persen dibanding ekspor Juni 2017. Demikian juga dibanding Juli 2016, meningkat 41,12 persen. Kemudian ekspor non migas mencapai USD 12,44 miliar atau naik 19,85 persen dibanding Juni 2017, dan naik 43,83 persen dibandingkan ekspor Juli 2016.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Juli 2017 mencapai USD 93,59 miliar atau meningkat 17,32 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sedangkan ekspor non migas mencapai USD 84,83 miliar atau meningkat 17,37 persen.
Peningkatan terbesar ekspor non migas berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD 241,6 juta (17,17 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada aluminium sebesar USD 12,5 juta (24,66 persen).
Dari sisi impor, nilainya mencapai USD 13,89 miliar atau naik 39 persen dibanding Juni 2017, dan 54,02 persen dibandingkan Juli 201. Impor non migas Juli 2017 mencapai USD 12,11 miliar atau naik 44,31 persen dibanding Juni 2017, dan naik 61,23 persen dibanding Juli 2016. “Peningkatan impor dari golongan mesin dan peralatan mekanik sebesar USD 618,1 juta. Ini bisa memicu produktivitas.”
Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juli 2017 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai USD 18,82 miliar (25,84 persen), Jepang USD 8,31 miliar (11,41 persen), dan Thailand USD 5,33 miliar (7,32 persen). Impor non migas dari ASEAN sebesar 20,60 persen, sementara dari Uni Eropa 9,32 persen.