İqbal Musyaffa
15 November 2018•Update: 15 November 2018
Iqbal Musyaffa
SINGAPURA
Indonesia mengatakan kesepakatan bab-bab dalam negosiasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) masih terhambat.
Dalam negosiasi RCEP, yang berlangsung di Singapura sejak Senin kemarin, telah menghasilkan pernyataan bersama para pemimpin ASEAN yang berisi tujuh bab pembahasan yang disepakati pada hari Rabu.
Ketujuh hal tersebut antara lain kerja sama ekonomi dan teknis, UMKM, prosedur kepabeanan dan fasilitas perdagangan, pengadaan barang dan jasa pemerintah, institusional provision, sanitary dan phytosanitary, serta standar regulasi teknis dan prosedur penilaian kesesuaian.
Dari ketujuh bab tersebut, menurut Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita, masih ada satu bab yang masih alot dan belum disepakati yakni bab kompetisi karena masih terhambat persetujuan dari Jepang.
Menurut dia, Jepang sejak pertemuan menteri RCEP pada Agustus lalu cenderung memaksakan kepentingannya dan tidak bersedia menunjukkan fleksibilitasnya.
“Padahal negara peserta RCEP lainnya telah menunjukkan fleksibilitas atas kepentingan Jepang,” jelas Menteri Enggar.
Lebih lanjut, dia menjelaskan China dan India yang selama ini selalu mempertahankan posisinya, justru pada pertemuan kali ini memberikan fleksibilitas yang cukup tinggi untuk mendukung ASEAN.
Indonesia dalam perundingan RCEP berperan sebagai penggagas sekaligus koordinator perundingan yang menekankan pentingnya pencapaian dan kemajuan yang substansial dalam negosiasi RCEP pada akhir tahun ini.
“Ini untuk menjaga kepercayaan publik atas manfaat peningkatan rantai pasok kawasan,” imbuh Menteri Enggar.
Singapura apresiasi Indonesia
Sementara itu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengungkapkan terima kasih kepada Indonesia sebagai negara koordinator dalam perundingan RCEP dan juga kombinasi usaha dari para negara peserta RCEP.
“Kita bertemu di waktu yang kritis saat proteksionisme dan sentimen anti-globalisasi meningkat,” ujar PM Lee.
Kedua kondisi tersebut menurut PM Lee, memiliki dampak negatif bagi regional dan juga dunia global.
“Kepercayaan bisnis di Asia juga sudah terdampak,” tambah PM Lee.
Negosiasi RCEP menurut dia, berlangsung lebih lama daripada perundingan lain pada umumnya karena adanya tantangan yang unik terhadap sebuah perjanjian perdagangan bebas yang mega.
Kompleksitas tersebut menurut PM Lee, karena keberagaman ekonomi yang ada di negara anggotanya.
RCEP beranggotakan 10 negara ASEAN dan juga 6 negara mitra dialog ASEAN antara lain Korea Selatan, Jepang, China, India, Selandia Baru, dan Australia.
Pernyataan Bersama
Negara-negara anggota ASEAN pada Rabu, telah menghasilkan pernyataan bersama para pemimpin negara RCEP.
Pernyataan bersama tersebut antara lain berupa komitmen para negara untuk meluncurkan berbagai negosiasi untuk mencapai perjanjian kemitraan ekonomi secara menyeluruh, berkualitas, dan saling menguntungkan yang membentuk lingkungan perdagangan dan investasi terbuka di kawasan.
Selain itu, para pemimpin juga mengatakan perjanjian RCEP penting untuk memfasilitasi perluasan perdagangan dan investasi regional yang berkontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekonomi global.
“Kami mencatat bahwa tugas untuk menyelesaikan RCEP menjadi lebih mendesak dan signifikan mengingat tantangan yang dihadapi oleh ekonomi global saat ini,” bunyi pernyataan bersama tersebut.
Dalam hal ini, para pemimpin negara anggota RCEP telah melakukan komitmen bersama untuk mewujudkan kesimpulan cepat dari negosiasi RCEP untuk mengembangkan sistem perdagangan yang terbuka, inklusif, dan berbasis aturan serta menunjukkan kepada dunia bahwa kerja sama perdagangan regional merupakan hal yang mungkin dilakukan.