18 Juli 2017•Update: 20 Juli 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Pemerintah Indonesia berusaha memasarkan berbagai komoditas ke pasar Turki. Salah satu yang diharapkan bisa segera terealisasi adalah Crude Palm Oil (CPO), komoditas andalan Indonesia yang kini harganya sedang naik di pasar dunia.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, tidak ada hambatan berarti dalam menginisiasi perdagangan ini. Selain Turki, Indonesia juga ingin mengembangkan pasar tradisionalnya ke wilayah Afrika.
“Nilai ekspor CPO kita ke Turki pernah turun agak tajam, sekitar 30%. Kita naikin lagi,” ujarnya di Jakarta, Senin.
Menurut Enggar, pihaknya berharap semua komoditas bisa masuk ke Turki. Produk olahan Kelapa sawit Indonesia di Turki masih kalah popular dengan produk serupa asal Malaysia. Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-23 dan mitra investasi ke-43 bagi Indonesia dengan nilai investasi sebesar USD 2,7 juta (2016).
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa dalam delapan tahun terakhir Indonesia selalu menikmati surplus perdagangan dengan Turki. Pada 2016, surplus tersebut mencapai USD 712,9 juta bagi Indonesia, dengan ekspor sebesar USD 1 miliar dan impor sebesar USD 311 juta.
Turki, menurut Enggar, merupakan pasar yang sangat prospektif. Turki juga bisa menjadi pintu masuk produk unggulan Indonesia ke kawasan Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah mengingat Turki memiliki perjanjian perdagangan dengan berbagai blok ekonomi tersebut.
“Indonesia dapat memanfaatkan posisi strategis Turki dalam suplai dan rantai nilai guna menembus pasar di negara-negara di kawasan tersebut,” ujar Enggar.
Enggar berharap, kesepakatan baru hubungan ekonomi bilateral Indonesia-Turki (Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement/IT-CEPA) bisa menjadi terobosan perdagangan kedua negara.
Perjanjian ini diharapkan bisa melonggarkan beberapa hambatan perdagangan akibat kebijakan pemerintah Turki. Seperti tarif maupun bea tambahan untuk beberapa produk impor serta trade remedies. Selain itu, perjanjian perdagangan negara-negara pesaing Indonesia dengan Turki juga menyebabkan daya saing ekspor Indonesia terganggu.