Iqbal Musyaffa
09 Januari 2020•Update: 10 Januari 2020
JAKARTA
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan pemerintah akan terus memantau pergerakan harga minyak akibat dari terjadinya konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan pada dasarnya Indonesia sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi situasi harga minyak dunia di atas USD100 per barel dan juga di bawah USD40 per barel.
Menurut dia, dalam APBN 2020 ditetapkan asumsi harga minyak sebesar USD63 per barel sementara kondisi harga minyak sempat menyentuh angka USD70 per barel meskipun saat ini sudah kembali lagi ke kisaran USD60 per barel.
“Apabila harganya nanti tinggi, kita akan bicara dengan parlemen apakah kita bisa mengubah asumsi dalam APBN bersama Kementerian Keuangan atau tidak,” ujar Djoko di Jakarta, Kamis.
Kementerian ESDM belum mengetahui apakah pada tahun ini akan ada APBN Perubahan karena tahun 2020 baru berjalan selama kurang dari satu bulan.
“Pantauan kita biasanya tiga bulan pertama, setelah itu enam bulan untuk melihat kemungkinan adanya APBNP,” kata Djoko.
Sementara itu, dia mengatakan kondisi harga minyak yang fluktuatif tidak memengaruhi penyaluran subsidi energi karena berapa pun harga minyak dunia dan juga kurs rupiah, subsidi sudah dipatok hanya untuk solar sebesar Rp1.000 per liter.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, penyaluran subsidi pada 2019 sebesar Rp135,4 triliun, turun dari 2018 yang sebesar Rp160 triliun.
Kemudian terkait pasokan minyak Djoko juga mengatakan tidak akan banyak terpengaruh dari konflik Iran-AS karena pasokan minyak Indonesia tidak hanya berasal dari negara yang berkonflik, namun juga berasal dari banyak negara seperti Rusia dan Afrika serta beberapa negara lainnya.