Muhammad Nazarudin Latief
09 April 2020•Update: 09 April 2020
JAKARTA
Industri kecil dan menengah sektor logam, mesin, elektronika dan alat angkut mengalami kesulitan di tengah dampak Covid-19. Kesulitannya antara lain penurunan kapasitas, merumahkan pegawai, kesulitan membayar pinjaman perbankan hingga berkurangnya modal usaha karena digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan di IMK di Tegal, Jawa Tengah, pusat kawasan industri komponen logam dan komponen otomotif mengalami penurunan produksi.
“Kami memantau dampak pandemi ini untuk merumuskan kebijakan strategis agar sektor IKM di dalam negeri bisa bertahan dan kembali bergairah,” ujar Gita, dalam siaran pers, Kamis.
Sebanyak 16 IKM telah merumahkan pegawainya, sebagian lagi mempertahankan pekerja namun dengan sistem bergilir.
Kondisi serupa juga terjadi di Sukabumi, Jawa Barat daerah pusat pengecoran logam, komponen otomotif, alat kesehatan, komponen telekomunikasi, dan komponen instalasi listrik.
Masing-masing pelaku merasakan dampak berbeda, sebagian menghentikan aktivitas produksi karena tidak ada pesanan, memberhentikan tenaga kerja beberapa pegawai.
Mereka juga tidak dapat membayar cicilan kredit perbankan, karena modal usaha digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Harga bahan baku mengalami kenaikan bahkan diprediksi akan langka, serta penundaan pembayaran pesanan,” ujar Gita.
“IKM di Sukabumi membutuhkan bantuan bahan baku, pesanan, dan dana untuk menunjang kelangsungan usaha mereka.”
Di Kabupaten Bandung, pemerintah memantau 21 IKM yang bergerak memproduksi alat rumah tangga, cangkul, baja ringan, lampu hias, kompor, oven gas, panel listrik, serta roof turbine ventilator.
Produksi untuk 21 IKM tersebut mengalami penurunan, penundaan, hingga penghentian karena tidak adanya pemesanan.
Namun, dua IKM yang masih berjalan normal, yakni CV Adam Jaya yang memproduksi roof turbin ventilator dan KASITech Mandiri yang memproduksi kompor.
Para pelaku IKM ini mengharapkan bantuan relaksasi kredit, membayar gaji pegawai, akses bahan baku dengan harga rasional, serta ketegasan kebijakan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran penyakit.
“Sehingga dunia bisnis dapat memperhitungkan strategi manajemen yang harus dijalankan,” ujar dia.