Muhammad Latief
05 Oktober 2017•Update: 05 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso pada Kamis mengungkapkan industri syariah di Indonesia, termasuk industri keuangan syariah, harus memberikan nilai tambah kepada masyarakat.
Nilai itu berupa produk-produk yang bisa membantu mengatasi masalah kehidupan.
“Misalnya pembiayaan yang murah. Jangan sampai jadi beban mahal bagi masyarakat,” ujar Wimboh.
Agar bisa membantu masyarakat, kata Wimboh lagi, skala industri syariah haruslah besar sehingga bisa menyediakan banyak produk yang kompetitif.
Gampangnya, sebut Wimboh, jika pada industri keuangan konvensional ada produk tertentu, maka di industri syariah juga harus tersedia.
Industri syariah di sektor keuangan dan perbankan juga harus akrab dengan teknologi serta merata hingga pelosok nusantara.
Selain itu, Wimboh mengatakan perbankan syariah sebaiknya tak hanya memberikan pelayanan keuangan mikro, tapi juga bisa memberikan pelayanan bagi perusahaan-perusahaan besar yang butuh produk keuangan syariah, seperti hedging syariah.
Menurut Wimboh, perekonomian dunia, baik syariah maupun konvensional, sedang mengalami perubahan menuju level baru. Efek perubahan ini membuat banyak pelaku gagap dan segera berupaya untuk beradaptasi.
Perubahan ini bisa terlihat dari menurunnya harga komoditas dunia, mulai dari pertanian, perkebunan, hingga pertambangan.
Di dunia perbankan konvensional, jumlah non performing loan (NPL) atau kredit macet meningkat, demikian juga di perbankan syariah.
Dalam dunia bisnis, perusahaan-perusahaan jenis single company yang tidak ditopang oleh grup besar, terpuruk karena tak kuasa menghadapi persaingan.
Dalam situasi seperti ini, industri syariah harus menentukan road map dan harus paham apa yang harus dilakukannya. Paling cocok, kata Wimboh, industri keuangan syariah menguatkan sektor mikro, tapi juga tidak menutup peluang di sektor infrastruktur.
“Tapi industri keuangan jangan terjebak pada pembiayaan besar, yang membuat likuiditasnya rendah,” saran Wimboh.