Muhammad Latief
JAKARTA
Pertumbuhan sektor e-commerce berpengaruh positif terhadap perkembangan bisnis logistik dan properti di Indonesia. Data dari Savills Indonesia, sebuah lembaga konsultan properti, pada 2020 nanti diperkirakan dibutuhkan lebih dari 1 juta meter persegi (m2), untuk mewadahi sekitar 13 ribu perusahaan e-commerce, yang diprediksi bakal beroperasi tiga tahun lagi.
Direktur Riset dan Konsultasi Savills, Anton Sitorus mengatakan negara seperti Indonesia yang struktur Produk Domestik Bruto (PBD)-nya didominasi oleh konsumsi rumah tangga, membuat pangsa pasar perusahaan e-commerce sangat besar. Apalagi, Indonesia menempati posisi ke-4 negara dengan populasi terbesar di dunia, dan target pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius.
“E-commerce dan logistik itu terkait, implikasinya pada properti. Bisa jadi (bangunan) toko berkurang, tapi yang bertambah warehousing, distribution center dan kantor,” ujarnya di Jakarta, Rabu.
Besarnya pasar e-commerce di Indonesia bisa dibayangkan dari data perkiraan ini. Pada 2020 populasi mencapai 270 juta jiwa. Sebanyak 60 persen di antaranya atau sekitar 141 juta jiwa adalah kelas menengah yang doyan belanja.
Angka belanja tahunan e-commerce di Indonesia pada 2016 saja sudah tercatat sebesar USD 5,29 miliar, tertinggi di Asia Tenggara. Thailand hanya mencapai separuhnya atau sekitar USD 2,89 miliar. Kemudian Singapura lebih kecil lagi yaitu USD 2,13 miliar.
Sedangkan negara tetangga yang lain yaitu Malaysia hanya USD 1,97 miliar, Vietnam USD 1,71 miliar dan Filipina menempati urutan terakhir dengan penjualan sebesar USD 0,05 miliar.
“Tidak heran, jika e-commerce raksasa seperti Alibaba dan lain-lain melihat Indonesia sebagai market besar.”
Perkiraannya, pertumbuhan e-commerce terjadi sekitar 20 persen setiap tahunnya. Dengan acuan ini, maka diperkirakan ada nilai penjualan sebesar US$ 14,47 miliar pada 2021 dan bakal menyumbang hingga 8 persen penjualan pasar retail.
Sebagai perbandingan, di China, rasio penjualan e-commerce terhadap pasar ritel secara keseluruhan mencapai 23 persen. Senior Director Savills Indonesia Lucy Rumantir mengatakan, bisnis e-commerce ini bakal membuat permintaan properti meningkat.
Pertumbuhan manufaktur, aktivitas ekspor dan impor, kebutuhan produk konsumen dan peningkatan populasi menyebabkan kenaikan permintaan properti logistik di Indonesia.
Berdasarkan pengamatan Savills, perusahaan e-commerce bersama dengan perusahaan teknologi lainnya misalnya fintech dan software development companies, mulai mengisi gedung-gedung perkantoran komersial, baik yang baru maupun lama.
Tokopedia misalnya, mereka menjadi anchor tenant (penyewa property utama) dan menempati 13.600 meter persegi di gedung yang sebelumnya bernama Ciputra Tower II dan sekarang berganti nama menjadi Tokopedia Tower.
Elevenia menempati AIA Central Building di kawasan Sudirman, seluas 1.500 meter persegi. Mataharimall, menempati gedung Lippo Kuningan dengan luas 1.635 meter persegi. Lazada menempati Plaza Agro, Kuningan seluas 1.900 meter persegi.
Lazada tercatat paling agresif membangun kawasan logistik. Pada Maret 2012, mereka hanya menempati gudang di kawasan Halim, Jakarta seluas 2 ribu meter persegi, kemudian bertambah di Ciracas, Jakarta Selatan, Cakung, Jakarta Utara dan terakhir di Cimanggis, hingga mencapai luas gudang 30 ribu meter persegi.
“Dulu perusahaan seperti ini biasanya tempati ruko atau garasi rumah mereka sendiri”.
Director Investment Savills, John Gamboa, mengatakan Lazada, Blibli, Berrybenka, Zalora dan JD.id diperkirakan terus memicu permintaan logistics space seiring pertumbuhan bisnis mereka.
Konsumsi mereka pada logistic space juga masih rendah, dibanding perusahaan layanan logistik (logistics space provider) dan perusahaan jasa pihak ketiga (third party logistics) yaitu sekitar 3 persen dari total logistics space. “Artinya, masih banyak sekali ruang pertumbuhan sektor ini.”
Gamboa menambahkan, keberadaan e-commerce ini juga bisa menarik bisnis baru, yaitu pergudangan modern di tengah kota berbeda dengan pergudangan saat ini yang memilih di daerah sub urban. Ini karena sifat bisnis yang mendekati perumahan warga sebagai konsumen.