Muhammad Nazarudin Latief
14 Mei 2019•Update: 15 Mei 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Salah satu pelaku industri petrokimia skala besar dunia siap berinvestasi di Kawasan Industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur dan akan beroperasi pada 2022 mendatang, ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Selasa.
“Saat ini sedang pembebasan lahan, artinya kan sudah serius. Biasanya konstruksi untuk pembangunan paling lama 2-3 tahun,” ujar Menteri Airlangga dalam siaran persnya.
Menurut Menteri Airlangga industri petrokimia memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Pada 2018 investasi di sektor industri kimia dan farmasi mencapai Rp39,31 triliun.
Selain itu, kelompok industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia menorehkan nilai ekspor sebesar USD13,93 miliar, ujar Menteri Airlangga.
Menurut Menteri Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar industri petrokimia penting untuk menumbuhkan sektor hulu serta mendongkrak kapasitas produksi sehingga bisa memenuhi kebutuhan di pasar domestik dan ekspor sekaligus sebagai substitusi impor.
Industri petrokimia berperan penting menunjang kebutuhan produksi di sejumlah manufaktur hilir, seperti bahan baku industri plastik, tekstil, cat, kosmetik dan farmasi, ujar Menteri Airlangga.
Menurut dia pemerintah bertekad menguatkan sektor induk (mother of industry) agar rantai pasok dan struktur manufaktur di dalam negeri lebih dalam sehingga bisa berdaya saing di kancah global.
Menteri Airlangga optimistis investasi dan ekspansi di sektor industri manufaktur makin menggeliat seusai perhelatan pemilihan umum dan pemilihan presiden.
Menurut dia hal ini sekaligus membuktikan bahwa iklim ekonomi, politik dan keamanan di Indonesia kondusif yang akan meningkatkan rasa kepercayaan para investor dalam berusaha.
“Selama ini kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) konsisten paling tinggi,” ujar Menteri Airlangga. “Beberapa sektor industri mencatatkan pertumbuhan double digit dan melampaui pertumbuhan ekonomi.”
Pada triwulan I-2019, sektor manufaktur yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 18,98 persen.
Disusul industri pengolahan tembakau yang tumbuh hingga 16,10 persen, kemudian industri furnitur tumbuh 12,89 persen serta industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 11,53 persen.
Kinerja positif juga diikuti oleh industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman yang mengalami pertumbuhan 9,22 persen, industri logam dasar tumbuh 8,59 persen, serta industri makanan dan minuman tumbuh 6,77 persen.
Sektor-sektor manufaktur ini yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan I-2019 sebesar 5,07 persen.