İqbal Musyaffa
13 Desember 2017•Update: 14 Desember 2017
İqbal Musyaffa
JAKARTA
Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato' Seri Zahrain Mohamed Hashim menegaskan bahwa Malaysia sudah menjalin kesepakatan dengan Indonesia untuk bersama melawan Eropa yang melakukan diskriminasi terhadap produk kelapa sawit.
Menurut Zahrain, diskriminasi tersebut sangat merugikan karena 85 persen produksi sawit global berasal dari kedua negara serumpun tersebut.
“Kelapa sawit bisa angkat kehidupan masyarakat miskin Malaysia dan Indonesia. Eropa justru cenderung menghindari perdagangan bebas dengan sawit,” keluh Zahrain, Rabu.
Oleh karena itu, kedua pemimpin negara tersebut membentuk Council Palm Oil Production Countries untuk menangkis tuduhan tanpa alasan jelas dari Eropa pada produk sawit.
“Kita tidak mau Eropa menganggap sawit sebagai komoditas yang buruk,” tegas Zahrain lagi.
Zahrain juga menambahkan bahwa pemerintah Indonesia telah mengundang Malaysia untuk bertemu dengan negara-negara Eropa untuk membahas terkait sawit dan menegaskan sikap kedua negara bahwa sawit memiliki banyak manfaat.
Beberapa waktu lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo telah meminta Uni Eropa menghentikan diskriminasi kelapa sawit dan juga kampanye hitam tentang deforestasi karena merugikan negara produsen sawit.
“Resolusi Parlemen Uni Eropa dan sejumlah negara Eropa terkait kelapa sawit dan deforestasi merusak citra negara produsen sawit,” tegas Joko Widodo ketika itu.
Selain itu, mengingat pentingnya produk sawit bagi kedua negara, Malaysia bahkan telah mengizinkan Indonesia untuk menambah Community Learning Center (CLC) di kebun-kebun sawit di Malaysia untuk para pekerja sawit asal Indonesia.
CLC merupakan salah satu wadah bagi kedua negara untuk meningkatkan pengetahuan dan pendidikan, khususnya bagi anak-anak pekerja sawit.
“Ini salah satu bukti bahwa sawit dapat meningkatkan kehidupan masyarakat miskin,” jelas Zahrain.
Anak-anak dari pekerja sawit Indonesia, ujar Zahrain, dapat mengikuti pendidikan dan pengajaran menggunakan kurikulum Indonesia di dalam CLC.
“Kita tidak hanya fokus pada sawit, tetapi juga kita tidak akan mengabaikan hak pendidikan bagi anak-anak,” tambah Zahrain.