Muhammad Nazarudin Latief
25 Maret 2019•Update: 25 Maret 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Malaysia Airports Holdings Bhd (MAHB) menyatakan tidak 'terburu-buru' untuk menjual saham yang dimilikinya di Bandara Internasional Istanbul Sabiha Gokchen (ISG), Turki.
“Kami tidak terburu-buru untuk menjual kecuali jika kami mendapatkan mitra strategis yang dapat menambah nilai lebih dalam pertumbuhan ISG, ” kepala eksekutif grup MAHB Raja Azmi Raja Nazuddin kepada New Straits Times, Senin.
Raja Azmi mengatakan MAHB tertarik mencari mitra strategis yang bisa membantu operator bandara mendapatkan tarif yang lebih baik dan membawa lebih banyak maskapai ke ISG.
"ISG menampung 34 juta penumpang pada 2018. Di tingkat perusahaan, kami kembali ke “hitam” untuk pertama kalinya dalam sejarah," tambahnya.
Raja Azmi mengatakan, ISG diharapkan menampung hingga 41 juta penumpang dengan selesainya asrama tahun lalu.
Dia mengatakan penyelesaian landasan pacu kedua ISG tahun depan juga akan memungkinkan bandara menampung hingga 60 juta penumpang per tahun.
"Yang perlu kita lakukan adalah memperluas terminal agar sesuai dengan kapasitas landasan 60 juta penumpang," katanya.
Sejak MAHB mengakuisisi ISG pada 2008, Raja Azmi mengatakan jumlah penumpang telah tumbuh tujuh kali lipat. Fokus utama adalah biaya konsesi dan pendapatan dalam Euro.
Pada Agustus tahun lalu, dilaporkan bahwa Turkish Airlines menyatakan minat untuk mengambil alih saham mayoritas bandara kedua Istanbul dari MAHB.
Turkish Airlines menawarkan €750 juta untuk kepemilikan. MAHB adalah bagian dari konsorsium yang memenangkan kontrak €1,9 miliar untuk mengoperasikan bandara pada 2007.
Pada 2013, MAHB setuju untuk meningkatkan kepemilikannya di ISG hingga 60 persen dengan mengakuisisi 40 persen saham yang dipegang oleh mitra India GMR Infrastructure Ltd sebesar €225 juta.
Operator bandara membeli 40 persen sisanya dari Limak Holding di Turki pada 2014 seharga €285 juta.
Raja Azmi mengatakan operator bandara akan fokus pada operasi dan pemeliharaan (O&M); dan fasilitas dan manajemen (F&M) daripada memperoleh kepemilikan saham.
“Fokus kami adalah pada F&M dan bukan pada ekuitas sebagai inti. Kami ingin mereplikasi pengalaman kami dalam F&M dan infrastruktur jaringan informasi dan teknologi di Bandara Internasional Hamad di Doha, ”katanya.
Dia menunjukkan MAHB biasanya mendapat perpanjangan kontrak penyediaan layanan manajemen fasilitas untuk fasilitas operasional bandara dan bangunan tambahan.
"Kami ingin menjual keahlian itu," katanya.
Raja Azmi mengatakan MAHB tidak memiliki rencana untuk membuang aset non-inti meskipun beberapa bandara tidak menguntungkan.
“Kami mempertahankan jaringan bandara kami secara lokal untuk memastikan bandara yang tidak menguntungkan itu akan terus beroperasi, memanfaatkan mekanisme subsidi silang kami,” katanya.