Muhammad Latief
TANGERANG
Pameran dagang internasional terbesar Trade Expo Indonesia (TE) ke-33 dibuka Rabu oleh Presiden Indonesia Joko Widodo. Acara yang digelar di Serpong, Tangerang, Banten ini adalah ajang pembuktian, bahwa negara terbesar di ASEAN ini sudah siap menjadi mitra bisnis buyer global.
Dalam pidato pembukaannya, Presiden Jokowi mengingatkan semua pihak agar memperbaiki defisit neraca perdagangan yang pernah mencapai USD17,3 miliar tahun lalu. Satu-satunya cara melakukannya, menurut Presiden, adalah memperbesar ekspor hingga melebihi impor.
Presiden juga meminta untuk terus memperlebar jangkauan produk Indonesia ke pasar-pasar non tradisional.
Banyak sekali pasar di Asia Selatan, Afrika yang selama ini belum digarap dengan maksimal, kata dia. Bahkan, pasar yang paling dekat -- yaitu negara-negara ASEAN -- harus dimaksimalkan kembali, kata Presiden.
“Saya ingin dubes bekerja keras untuk pasar non tradisional. Ini peluang besar yang tidak pernah kita urus, mulai kita urus dengan baik, sehingga ekspor kita benar naik dan terjadi surplus neraca perdagangan,” ujar mantan Wali Kota Solo ini.
“Ada pertarungan, perang dagang. Gunakan perang ini ada peluang, gunakan peluang ini untuk masuk ke pasar yang ditinggalkan oleh yang baru berperang, ini kesempatan, ini adalah peluang yang bisa dan harus dipergunakan sebaik mungkin,” tambah dia.
Kerja keras membuka pasar-pasar baru, menurut Presiden, sudah mulai membuahkan hasil. September lalu neraca perdagangan mulai surplus USD200 juta. Ekspor Januari-September 2018 juga mencapai USD122 miliar atau tumbuh 9,2 persen dibandingkan tahun lalu.
“Saya menghargai usaha keras untuk masuk ke pasar ekspor terutama negara non tradisional. Meski masih kecil, sudah ada surplus,” ujar Jokowi.
“Angka seperti ini harus tahu, artinya semakin tahun ekspor kita lebih baik. Pemerintah terus mendorong. insentif apa yang bisa diberikan sehingga pabrik, dunia usaha, industri semua terdorong masuk ke pasar ekspor.”
Target tinggi
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menargetkan transaksi sebesar USD1,5 miliar dan 28 ribu pengunjung pada acara tersebut. Menteri Enggar juga menargetkan 1.110 peserta berpartisipasi yang terdiri dari produsen, eksportir, serta pemasok produk dan jasa Indonesia.
Menurut Menteri Enggar target ini tidak muluk-muluk, karena pada TEI 2017 nilai transaksinya mencapai USD1,41 miliar, lebih tinggi dari target USD1,1 miliar. Nilai transaksi itu naik 37,3 persen dibanding TEI 2016 yang hanya mencapai USD1,02 miliar.
“Fokus utama TEI adalah transaksi business-to-business yang bersifat jangka panjang dan bertaraf internasional,” ungkap Menteri Enggar saat memberikan sambutan pada pembukaan TEI 2018.
TEI digelar selama lima hari, yaitu pada 24-28 Oktober 2018. Selama penyelenggaraan TEI, diperkirakan akan dilakukan 68 penandatanganan kontrak dagang misi pembelian.
Kontrak dagang tersebut berasal dari Korea Selatan, Australia, Arab Saudi, Belgia, Perancis/Austria, RRT, Belanda, Spanyol, Meksiko, Thailand, Chile, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Filipina, Brasil, Inggris, Jerman, Mesir, Nigeria, Italia, Hong Kong, Taipei, UAE, Irak, dan Jepang.
Perkiraan total nilai kontrak dagang adalah sekitar USD5,19 miliar yang terdiri dari transaksi perdagangan sebesar USD513,97 juta dan investasi sebesar USD4,68 miliar.
Hingga 23 Oktober 2018, telah terdaftar 8.313 buyers dari 124 negara. Sepuluh negara dengan jumlah buyer tertinggi Nigeria, Malaysia, Tiongkok, Jepang, India, Saudi Arabia, Thailand, Australia, Afghanistan, dan Pakistan.
Hingga 22 Oktober 2018 telah ada 7.127 permintaan terhadap produk Indonesia, yang terbesar adalah makanan dan minuman; produk fashion dan gaya hidup serta kecantikan; produk manufaktur dan jasa; produk furnitur, perabotan, dan furnitur taman.
Tahun ini, TEI fokus mendatangkan buyer mancanegara. Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri melalui 132 kantor perwakilan di luar negeri, 22 atase perdagangan, 18 kantor Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), 1 Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia, serta 1 Konsul Perdagangan maupun KADIN negara-negara sahabat untuk menyebarluaskan informasi penyelenggaraan TEI 2018.
Selain pameran dagang, TEI 2018 juga menyuguhkan berbagai kegiatan, seperti Forum Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi (TTI Forum) yang terdiri dari kegiatan Seminar TTI, diskusi kawasan, konsultasi bisnis, serta kompetisi export start up.
“Indonesia telah siap menjadi mitra penyedia produk- produk berdaya saing yang berkesinambungan bagi pelaku usaha dunia di kancah perdagangan global,” ujar Menteri Enggar.
Hilirisasi industri dalam negeri
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira mengatakan kunci peningkatan produk ekspor adalah hilirisasi dan diversifikasi industri dalam negeri.
Misalnya produk terbesar Indonesia yaitu Crude Palm Oil (CPO) tidak saja diarahkan untuk sektor makanan dan minuman, tetapi juga sebagai produk oleokimia dan kosmetik sehingga mendapatkan permintaan yang cukup besar.
Namun, karena investasi yang dibutuhkan besar, pemerintah harus menariknya dengan berbagai insentif fiskal. Pengembangan industri juga bisa dibarengi dengan pengembangan kawasan ekonomi khusus dengan infrastruktur fisik pendukung dan teknologi industri.
Peneliti Indef lainnya, Ahmad Heri Firdaus, mengatakan Indonesia mempunyai potensi besar untuk berperan sebagai pemain global supply chain. Terutama dalam sektor agro industri, sektor industri otomotif komponen otomotif, komponen elektronik dan logam dasar.
Syaratnya harus memperbaiki daya saing dan meningkatkan produktivitas baik di hulu maupun hilir.
“Intinya harus ada support dari faktor-faktor yang memengaruhi kinerja industri, seperti regulasi, perijinan, logistik, keuangan, bahan baku dan energi,” ujar Heri.
Sehingga kita bisa memperkuat industri manufaktur dan bisa berperan lebih besar dalam perdagangan global.
news_share_descriptionsubscription_contact


