İqbal Musyaffa
26 April 2018•Update: 27 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dalam diskusi dan peluncuran Roadmap Kopi di Jakarta, Kamis, mengatakan Indonesia beserta negara produsen kopi lainnya seperti Brazil, Vietnam, dan Kolombia hanya bisa menikmati 10 persen dari total nilai perdagangan kopi.
Secara global, menurut Menteri Darmin, total perdagangan kopi mencapai USD240 miliar. Sementara itu negara produsen kopi hanya menerima 10 persen saja atau sekitar USD24 miliar.
Salah satu penyebabnya, menurut dia, adalah lemahnya kemampuan negara produsen dalam mengelola biji kopi.
“Negara penghasil kopi hanya berhasil mengolahnya menjadi biji kopi tanpa mengeringkannya. Sementara negara maju yang mampu mengolahnya menjadi bubuk kopi,” ungkap Menteri Darmin.
Tidak hanya itu, alat-alat pengolahan kopi juga masih dikuasai oleh negara maju sehingga keuntungan dari industri kopi lebih banyak dirasakan mereka.
Karenanya, pemerintah kini semakin serius mengembangkan komoditas kopi karena besarnya potensi kopi yang dimiliki Indonesia.
Keunggulan kopi Indonesia, menurut Menteri Darmin, sudah lama diakui dunia. Salah satunya oleh William H. Ukers yang menulis buku All About Coffee terbitan tahun 1922.
“Saya tertarik dengan Roadmap Kopi karena dalam buku tua All About Coffee disebutkan bahwa kopi paling enak berasal dari indonesia yaitu Mandailing, Kerinci, Priangan, dan Padang karena rasa dan aromanya khas,” lanjut dia.
Sebab itu, Menteri Darmin menegaskan pengembangan komoditas kopi harus digarap serius agar tidak mengalami nasib yang sama seperti karet dan teh serta rempah-rempah yang belum terkelola dengan baik.