Muhammad Nazarudin Latief
12 November 2017•Update: 13 November 2017
Muhammad Nazaruddin Latief
JAKARTA
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, nilai perdagangan Indonesia-Vietnam sebesar USD 6,3 miliar, masih di bawah target yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi dan Presiden Tran Dai Quang
Nilai perdagangan tersebut, sebenarnya sudah tumbuh jauh lebih tinggi dibanding enam tahun lalu, yang hanya mencapai USD 3,3 miliar. Namun, dalam sebuah pertemuan bilateral, kata Menteri Enggar, kedua kepala negara menargetkan transaksi perdagangan mencapai USD 10 miliar.
Untuk meningkatkan transaksi perdagangan itu, pemerintah, menggelar pameran perdagangan di sela-sela ajang Konferensi Tingkat Tinggi Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) 2017 di Da Nang, Vietnam. Pameran ini diharapkan dapat menarik komunitas bisnis Vietnam untuk menjajaki kesempatan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia.
“Yang ikut 26 perusahaan, ada otomotif, konveksi, makanan dan minuman, bubur kertas dan kertas, fesyen, dan kerajinan tangan,” ujar Menteri Enggar.
Pemerintah, lanjut Mendag, akan mendukung upaya pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi dalam era perdagangan bebas masyarakat ekonomi ASEAN.
Fokusnya adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan daya saingnya dan mampu melebarkan sayapnya.
Ekspansi UMKM ke pasar internasional sejalan dengan program APEC. Melalui Boracay Action Agenda to Globalize MSME yang disepakati 2 tahun lalu di Filipina, APEC berupaya membangun peta jalan guna memfasilitasi perdagangan UMKM, termasuk di antaranya meningkatkan perannya dalam pasar dan jaringan produksi global.
Selain Vietnam, pertemuan APEC juga dimanfaatkan untuk menjajaki peluang pasar produk buah tropis asal Indonesia untuk dapat masuk ke pasar Selandia Baru.