Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS), pada Senin, melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua tahun 2017 ini tumbuh stagnan di angka 5,01 persen, sama dengan angka kuartal sebelumnya. Begitu dikatakan Kepala BPS Kecuk Suhariyanto.
Pertumbuhan ini, sebutnya, didorong oleh semua lapangan usaha. Tapi, “yang tertinggi adalah sektor informasi dan komunikasi [10,88 persen].”
Walau masih berada di bawah ekspektasi yakni sebesar 5,1 persen, Kecuk mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bagus di tengah tidak pastinya ekonomi global dan penurunan harga komoditas. Indonesia, lanjut Kecuk lagi, berada “di bawah Tiongkok yang pertumbuhannya 6,9 persen”.
Sementara itu, bila ditilik dari penghitungan harga konstan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini, Indonesia menghasilkan sekitar Rp 2,4 triliun pada kuartal kedua tahun 2017.
Perekonomian Indonesia, sebut Kecuk, sangat dipengaruhi oleh 5 sub-sektor. Mereka adalah industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.
Kuartal ini, industri menyumbang PDB sebanyak 20,26 persen. Ini, kata Kecuk, termasuk kurang menggembirakan karena perkembangannya hanya 3,54 persen.
Pertanian menyumbang 13,92 persen PDB, namun lagi-lagi menurut Kecuk, pertumbuhannya hanya 3,33 persen saja.
Perdagangan pada kuartal ini menyumbang PDB sebesar 13,03 persen, dengan pertumbuhan 3,75 persen. Kemudian konstruksi menyumbang PDB sebesar 10,11 persen, dan terakhir pertambangan menyumbang PDB sebesar 7,36 persen.
Meski kelima sub-sektor di atas tumbuh positif, ada satu sektor yang malah menjadi negatif. “Di sektor administrasi pemerintahan tumbuh negatif, karena pergeseran gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil,” Kecuk menjelaskan, bila tahun lalu gaji ke-13 masuk pada bulan Juni (kuartal kedua), sekarang masuk di bulan Juli (kuartal ketiga).
Pelemahan ekonomi belum selesai
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto mengatakan, angka pertumbuhan ekonomi ini menunjukkan bahwa pelemahan ekonomi yang dialami Indonesia belum selesai.
Angka ini tidak berubah dari triwulan I, “padahal ada Lebaran yang seharusnya jadi stimulus pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus”.
Menurut Eko, melihat dari pertumbuhan kuartalan (q-to-q), setiap sektor tumbuh di bawah rata-rata, kecuali sektor informasi dan komunikasi.
Pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu menggembirakan ini, menurut Eko lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam negeri, karena kondisi internasional yang tidak banyak berubah.
“[Ekonomi] dalam negeri semakin banyak perlambatan, jadi [pertumbuhan] industrinya kecil, perdagangan turun. Sektor yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kehabisan energi,” ujarnya.
news_share_descriptionsubscription_contact
