Iqbal Musyaffa
03 Oktober 2017•Update: 04 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam Rapar Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Selasa, mengatakan ekonomi digital secara global terus tumbuh dan menjadi keniscayaan yang tak bisa dihindari.
Menurutnya, dunia usaha Indonesia harus siap menghadapi perubahan ini. Ia mengaku khawatir pelaku usaha – khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) – akan tergerus dengan masuknya produk UMKM asing yang melimpah akibat fenomena digital ini.
“Kami tentu ingin mendengarkan kesiapan dan melihat dari perspektif yang lebih luas dari dunia usaha secara keseluruhan terkait hal ini,” ungkapnya.
Pemerintah, sebut dia, memerlukan masukan agar dapat mengeluarkan kebijakan dan langkah yang tepat untuk mengantisipasinya. Saat ini, lanjutnya lagi, perdagangan online belum teregulasi.
“Ini menimbulkan persaingan tidak sehat antara [perdagangan] online dan offline. Yang offline kena pajak, yang lainnya tidak,” ujarnya.
Inilah yang menurutnya menjadi tantangan bagi dunia usaha di Tanah Air. Terlebih saat ini belum ada data yang menunjukkan pertumbuhan perdagangan elektronik secara online.
“Saya memilih berhati-hati membuka akses pasar digital untuk UMKM karena saya lihat kita belum siap,” ungkap Menteri Enggar.
Perdagangan konvensional, menurut Menteri Enggar, memiliki banyak mata rantai yang menyebabkan biaya ekonomi menjadi tinggi. Rangkaian mata rantai perdagangan juga akan terlindas zaman tergantikan sistem daring.
“Maka harga akhir perdagangan online akan lebih rendah dan konsumen makin diuntungkan,” ujarnya.
Dunia usaha, menurutnya, harus mempersiapkan diri agar bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu membendung arus deras masuknya produk UMKM asing secara digital.