JAKARTA
Hari-hari di bulan Ramadan biasanya menjadi saat tersibuk bagi bisnis konveksi yang dikelola oleh Muhammad Irsyad, 32, di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Bisnis konveksi pakaian dalam perempuan itu telah dijalani keluarganya selama 27 tahun, namun baru kali ini tokonya di Tanah Abang sampai tutup selama satu bulan lebih.
“Biasanya menjelang bulan puasa ini puncak ramainya untuk semua pedagang di Tanah Abang. Sekarang enggak ada pergerakan sama sekali,” tutur Irsyad kepada Anadolu Agency,
Pada situasi normal, toko milik Irsyad bisa meraup omset hingga Rp150 juta per bulan dengan memproduksi 200 lusin pakaian dalam per minggu.
Sementara saat ini, Irsyad mengaku tidak memiliki pemasukan sama sekali karena toko dan konveksinya harus berhenti beroperasi.
Dia terpaksa merumahkan sekitar 50 orang karyawan karena tidak sanggup meneruskan produksi dan membayar upah mereka.
Karyawan Irsyad biasanya dibayar dengan upah harian tergantung produktivitas mereka.
Ketika produksi terhenti, pemasukan mereka juga otomatis terhenti sehingga sebagian besar memilih pulang kampung untuk bertahan hidup.
“Kalau dipaksakan produksi jalan terus sementara enggak ada pasar, saya enggak kuat. Mau coba-coba pun enggak berani, bisa-bisa bangkrut,” kata dia.
Di sisi lain, Irsyad merasa masih terbebani oleh tagihan-tagihan yang tetap berjalan, salah satunya cicilan utang ke bank.
“Saya sudah komunikasi sama pihak bank, minta bantuan keringanan cicilan tapi belum ada,” ungkap Irsyad.
Irsyad saat ini mencoba bertahan dengan menjual sisa produksi yang ada ke pasar-pasar kecil yang masih beroperasi.
Namun menurut dia, tidak banyak yang laku mengingat daya beli masyarakat menurun di tengah pandemi.
“Semuanya sepi, enggak cukup untuk menutupi,” tutur dia.
“Saya cuma berharap (pandemi) Covid-19 ini bisa segera selesai, supaya bisa bergerak lagi pelan-pelan,” lanjut Irsyad.
Produksi tekstil anjlok 80 persen, 1,8 juta pekerja telah terdampak
Sekretaris Eksekutif BPN Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan produksi tekstil anjlok hingga 80 persen dibandingkan situasi normal.
Produsen tekstil tidak bisa memasarkan produknya di dalam negeri karena pusat grosir seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta; Pasar Baru, Bandung; dan Pasar Cigondewah, Bandung; harus tutup akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
“Pusat nasional ada di Tanah Abang sehingga besar sekali pengaruhnya. Kalau itu tutup, pasar nasional tidak ada salurannya,” kata Rizal kepada Anadolu Agency.
Minat beli masyarakat terhadap produk tekstil juga menurun sehingga pemasaran secara online pun tidak menolong.
Selain itu, pasar ekspor juga terdampak oleh pandemi akibat sejumlah negara tujuan menerapkan lockdown.
“Untuk yang ekspor ada sekitar 90 persen yang cancel order,” tutur Rizal.
“Ini kondisi tersulit yang pernah dialami tekstil, lebih para dibandingkan krisis 1998,” lanjut dia.
Data API menunjukkan ada 1,8 juta pekerja industri tekstil telah dirumahkan hingga April 2020, paling banyak berlokasi di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Menurut Rizal, pengurangan karyawan dan penurunan produksi diprediksi masih akan terjadi jika pandemi masih terjadi.
“20 Persen yang masih produksi saat ini cuma menghabiskan pesanan untuk garmen, ada juga yang mengalihkan produksi ke APD (alat pelindung diri) dan masker,” tutur Rizal.
Namun mengalihkan produksi ke APD untuk kebutuhan medis juga bukan jawaban bagi keseluruhan industri yang terpukul.
Rizal menuturkan hanya sekitar 3 persen industri yang bisa beralih, sementara sisanya tidak memiliki kapasitas untuk itu.
“Untuk bisa produksi APD itu hanya sektor garmen yang bisa, yang punya alat untuk memproduksi APD juga tidak banyak,” lanjut dia.
Menurut dia, kerugian yang harus ditanggung akibat pandemi ini sudah sangat besar.
Industri tekstil merupakan salah satu penyumbang devisa yang signifikan dari ekspor nasional yakni mencapai USD19 miliar pada Januari hingga Oktober 2019..
Di sisi lain, tagihan minimum listrik dan cicilan utang ke bank masih terus berjalan.
“Listrik dipakai atau enggak, tetap bayar abodemen sekitar 10 persen dari tagihan bulanan,” kata Rizal.
API meminta ada keringanan pembayaran listrik agar bisa dicicil setelah pandemi usai, serta ada relaksasi utang dari bank.
“Kalau pemerintah tidak beri penanganan yang tepat, prediksi kami paling bagus sampai akhir bulan ini bisa bertahan,” tutur Rizal.
“Imbas ekonominya berat sekali, setidaknya dengan stimulus kami bisa nabung napas,” lanjut dia.