Muhammad Latief
13 September 2017•Update: 14 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Kinerja bisnis ritel di Indonesia digambarkan oleh Ketua Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mendey pada Rabu, seperti kura-kura yang berjalan namun kelebihan beban.
Pada kuartal II/2017 ini, bisnis ritel tumbuh hanya 3,7 persen, turun dari kuartal I/2017 yang tumbuh 3,9 persen. “Bisnis tetap tumbuh, namun melaju sangat pelan,” kata Roy.
Pada kuartal I/2016 sebenarnya muncul tanda-tanda positif, karena ritel tumbuh mencapai 11,3 persen. Namun kemudian menurun pada kuartal IV/2016 yang hanya tumbuh 4,2 persen.
Kondisi seperti ini sebenarnya pernah terjadi pada 2009 lalu. Saat itu, bisnis ritel hanya tumbuh 4,7 persen, padahal tahun sebelumnya tumbuh 21,1 persen. Namun kala itu, kondisi bisnis segera mengalami perbaikan, sehingga pada 2010 tumbuh 11 persen dan bertahan hingga 2013.
“Pada 2012-2013 itu kondisi puncak. Saat ini ada beban berat, sehingga berjalan pelan,” tukas Roy.
Pada kuartal terakhir tahun ini, Roy berharap akan ada pertumbuhan 8-9 persen, namun harus ada kejadian luar biasa yang menggerakkan perekonomian. Jika mau lebih realistis, pertumbuhan ekonomi kuartal ini, “Sekitar 6-7 persen tumbuh. Real-nya sekitar 7,5 persen.”
Tapi pada dasarnya, Aprindo optimis akan adanya pertumbuhan bisnis. Menurutnya, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tepat, sehingga membentuk faktor eksternal yang kondusif untuk pertumbuhan bisnis, yaitu mengamankan daya beli masyarakat.
Kebijakan tersebut adalah komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga energi hingga akhir tahun. Harga minyak dan gas yang tidak volatile, menurutnya akan membuat situasi kondusif dan masyarakat lebih optimistis.
Selain itu, kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan 7-Days Reverse Repo Rate dari 4,75 persen menjadi 4,5 persen, baru akan terasa efek positifnya tiga bulan mendatang, yaitu adanya eskalasi pinjaman yang berujung mendongkrak daya beli.
Kebijakan pemerintah berikutnya yang dianggap positif adalah pembentukan “satgas percepatan izin berusaha”, yang menurut Roy akan menggerakkan perekonomian dengan masuknya investasi.
Meski optimistis, tahun ini Aprindo akan tetap akan melakukan berbagai kebijakan efisiensi. Antara lain, dengan membatasi penggunaan listrik, memilih produk fast moving customer goods, serta pengaturan pembukaan toko dan penutupan toko.