Muhammad Latief
30 Oktober 2017•Update: 30 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Realisasi penanaman modal asing (PMA) tumbuh 12 persen pada kuartal III tahun 2017 dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp111,7 triliun, kata Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Azhar Lubis, Senin.
Investasi asing ini angkanya jauh lebih besar dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang hanya Rp64,9 triliun pada periode yang sama. Angka ini meningkat 16,8 persen dari realisasi investasi di kuartal III tahun 2016.
Secara kumulatif, sejak awal tahun hingga akhir September 2017 realisasi PMA tercatat Rp318,5 triliun atau 62,1 persen dari total investasi yang masuk sebesar Rp513,2 triliun. Sisanya adalah realisasi PMDN.
“Angka investasi tumbuh konsisten dari waktu ke waktu,” ujar dia.
Nilai investasi kuartal III ini sudah mencapai 75,6 persen dari target realisasi 2017 sebesar Rp678,8 triliun.
Di sisi lain, kata Azhar, pertumbuhan penanaman modal sepanjang kuartal III tahun 2017 menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 286.497 orang. Rinciannya, proyek PMDN menyerap pekerja sebanyak 109.711 orang dan PMA sebanyak 176.786 orang.
Hal ini, kata Azhar menunjukan investasi tetap berperan dalam menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Realisasi investasi yang menyerap tenaga kerja, akan menjadi perhatian utama pemerintah,” kata dia.
Singapura menempati negara urutan pertama dalam daftar investasi asing terbesar, yaitu USD 2,5 miliar atau berkontribusi 30,1 persen dari total investasi asing. Kemudian Jepang sebesar USD 1,1 miliar atau 13,3 persen, urutan ketiga adalah Tiongkok dengan nilai invesgtasi sebesar USD 800 juta atau sebesar 9,6 persen.
Amerika serikat menempati urutan keempat negara paling besar menanamkan investasinya, yaitu sebesar USD 600 juta atau 7,2 persen. Kemudian urutan selanjutnya adalah Korea Selatan dengan nilai investasi USD 400 juta.
Kemudian sektor yang menjadi incaran investasi, baik dalam maupun luar negeri adalah sektor usaha listrik, gas, dan air. Nilai investasinya sebesar Rp2,21 triliiun. Disusul oleh sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp19,9 triliun.
Berikutnya industri logam, mesin, dan elektronik sebesar Rp18,9 triliun, pertambangan Rp18,2 triliun, dan industri kimia serta farmasi Rp16,3 triliun.