Iqbal Musyaffa
22 September 2020•Update: 23 September 2020
JAKARTA
Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan ini kompak melemah akibat adanya skandal perbankan global yang mencuat.
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan sore ini rupiah ditutup melemah 85 poin di level Rp14.785 dari penutupan sebelumnya di level Rp14.700 per dolar AS.
Sementara dalam perdagangan besok ada kemungkinan rupiah akan kembali melemah antara 30-80 poin di level Rp14.770 hingga 14.850 per dolar AS.
Kemudian, IHSG juga ditutup terkoreksi 1,31 persen ke level 4.934,09 dengan nilai transaksi tercatat Rp6,86 triliun dan dana asing keluar mencapai Rp632,5 miliar.
“Pasar tersentak dengan munculnya skandal perbankan global yang mencuat setelah FinCEN Files yang berisi sekumpulan dokumen penting dan rahasia di dunia perbankan dan keuangan bocor ke publik,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Selasa.
Dia mengatakan dokumen tersebut berisi 2.500 lembar halaman, sebagian besar adalah file yang dikirim bank-bank ke otoritas Amerika Serikat (AS) antara tahun 1995 sampai 2017.
Di dalam file tersebut terdapat skandal penggelapan dana hingga pengemplangan pajak dari lembaga keuangan besar dunia.
“Terdapat penjelasan soal bagaimana beberapa bank terbesar di dunia mengizinkan adanya transaksi uang kotor ke seluruh dunia dan nilainya mencapai sekitar USD2 triliun,” kata Ibrahim.
Selain itu, dia menambahkan faktor lain yang berpengaruh terhadap rupiah dan IHSG adalah Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell yang mengatakan pada hari Senin bahwa ekonomi AS membaik, tetapi dia memperingatkan ada jalan panjang yang harus ditempuh sebelum pemulihan penuh dari Covid-19.
“Investor juga menantikan komentar Powell ketika dia bersaksi di depan Sub-komite Pemilihan DPR tentang Covid-19 pada hari Rabu nanti,” tambah dia.
Ibrahim mengatakan harapan pasar terhadap AS yang akan meloloskan langkah-langkah stimulus terbaru sebelum pemilihan presiden AS memudar ketika pertempuran partisan untuk menggantikan Hakim Agung Ruth Bader Ginsburg mulai terbentuk.
“Meskipun Ketua DPR Nancy Pelosi dan DPR Demokrat merilis RUU pendanaan pemerintah sementara, ia tidak mendapat dukungan dari Gedung Putih atau Senat Republik,” kata dia.
Selanjutnya, Ibrahim mengatakan wabah Covid-19 baru di Eropa telah membuat negara-negara seperti Yunani dan Denmark menerapkan kembali langkah-langkah pembatasan selama minggu sebelumnya.
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga akan mengumumkan pembatasan baru di bar dan restoran di kemudian hari serta kemungkinan adanya pembatasan sosial secara lebih luas.
Amandemen UU Bank Indonesia
Pada sisi lain, Ibrahim mengatakan faktor internal yang berpengaruh pada rupiah dan IHSG hari ini adalah adanya rencana amandemen undang-undang Bank Indonesia (BI) yang masih menjadi pembahasan utama di berbagai media, walaupun rancangan undang-undangnya masih dalam pembahasan di Badan Anggaran DPR RI.
“Namun, rencana amandemen tersebut menjadi sorotan bagi pelaku pasar baik domestik maupun asing karena mempertanyakan independensi bank sentral dalam memutuskan kebijakan baik suku bunga maupun stimulus, walaupun rencana amandemen ini hanya berlaku di masa Covid-19 sampai 2023,” urai Ibrahim.
Ibrahim mengatakan sorotan pasar terjadi walaupun pemerintah berkali-kali meyakinkan pasar bahwa revisi tersebut bertujuan untuk memperluas wewenang Bank Indonesia sebagai bank sentral dan dibentuk karena Indonesia dalam keadaan ekonomi yang tidak sehat akibat pandemi Covid-19 sehingga perlu amandemen undang-undang Bank Indonesia untuk menanggulanginya.
“Namun lagi-lagi di kalangan pelaku pasar terjadi pro dan kontra atas pernyataan pemerintah tersebut , yang akhirnya pasar kembali kecewa dan berimbas terhadap aliran modal asing yang dilaporkan mulai keluar dari pasar valas, obligasi, dan Surat Utang Negara (SUN),” jelas Ibrahim.