Ali Canberk Ozbugutu, Burhan Sansarlioglu, Emir Yildirim
15 Oktober 2026•Update: 15 Oktober 2026
Surplus perdagangan China mencapai 133,5 miliar dolar AS (sekitar Rp2,2 kuadriliun) pada September 2026, level tertinggi sejak Januari 2025, didorong lonjakan ekspor yang melampaui pertumbuhan impor, menurut data otoritas bea cukai China (GACC).
Ekspor China meningkat 36,3 persen secara tahunan menjadi 447,1 miliar dolar AS, sementara impor naik 31 persen menjadi 313,6 miliar dolar AS.
Juru bicara sekaligus Wakil Kepala GACC Wang Jun dalam pernyataan terbarunya mengatakan tingginya permintaan global terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur kelistrikan telah meningkatkan kebutuhan chip serta komponen elektronik, sehingga mendorong pertumbuhan ekspor China.
Berdasarkan negara dan kawasan tujuan, ekspor China ke Amerika Serikat (AS) melonjak 39,5 persen, sementara pengiriman barang ke negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) meningkat 52,2 persen.
Ekspor ke negara-negara Uni Eropa juga tumbuh 25,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, impor China terus meningkat sejak awal tahun, seiring kenaikan harga energi dan bahan baku di pasar global.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, China mencatat surplus perdagangan sebesar 938,1 miliar dolar AS.
Dengan perkembangan tersebut, China diperkirakan kembali mencetak rekor surplus perdagangan tahun ini setelah membukukan surplus tertinggi sebesar 1,19 triliun dolar AS pada 2025.
Sementara itu, indeks harga konsumen (CPI) China meningkat 0,9 persen secara tahunan pada September.
Meskipun laju kenaikannya sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut masih berada di bawah perkiraan pasar dan mengindikasikan bahwa konsumsi domestik China masih lemah.
Indeks harga produsen (PPI) China juga naik 5 persen secara tahunan pada September, mencatat kenaikan tercepat sejak Juni 2022 dan melampaui perkiraan sebesar 3,8 persen.
Sejumlah analis menilai para pembuat kebijakan ekonomi China kemungkinan perlu menerapkan langkah-langkah stimulus tambahan untuk mencapai target pertumbuhan jangka pendek maupun jangka panjang.
Kepala Ekonom China di ING Group Lynn Song mengatakan kepada Anadolu bahwa hubungan perdagangan utama China diperkirakan tetap stabil hingga akhir tahun, sehingga ekspor dapat terus menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut Song, ekspor China ke AS terus menunjukkan pemulihan seiring masih berlakunya kesepakatan perdagangan antara kedua negara.
"Ekspor China telah mengalami perubahan signifikan selama satu dekade terakhir, baik dari sisi jenis produk maupun negara tujuan," kata Song.
"Seiring China beralih ke produk dengan nilai tambah lebih tinggi, ekspor yang tumbuh paling cepat semakin didominasi barang-barang dengan margin keuntungan lebih besar, sementara industri manufaktur bernilai tambah rendah mulai berpindah ke negara-negara lain di kawasan," ujarnya.
Song mengatakan impor China meningkat 27,5 persen secara tahunan selama tiga kuartal pertama 2026 hingga mencapai 2,43 triliun dolar AS.
"Dibandingkan perkiraan pada awal tahun, impor menjadi perkembangan yang paling mengejutkan sepanjang tahun ini," katanya.
Dia menjelaskan bahwa produk teknologi masih menjadi pendorong utama pertumbuhan impor, yang menunjukkan China terus meningkatkan pengeluaran di tengah persaingan teknologi global.
"Produk teknologi tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan impor, yang menunjukkan bahwa China terus mengeluarkan dana dalam persaingan teknologi yang sedang berlangsung," ujarnya.
Namun, Song menilai peningkatan ekspor dalam beberapa bulan terakhir telah membuka peluang bagi China untuk kembali melampaui rekor surplus perdagangan tahun sebelumnya.
"Meski demikian, peningkatan ekspor dalam beberapa bulan terakhir telah menempatkan China pada posisi untuk melampaui rekor surplus perdagangan tahun lalu yang mencapai 1,2 triliun dolar AS," tambahnya.