Iqbal Musyaffa
16 Oktober 2017•Update: 18 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Meskipun neraca perdagangan Indonesia periode Januari-September tahun ini surplus USD10,87 miliar, namun dominasi Tiongkok dalam perdagangan dengan Indonesia masih sulit terbendung.
Khususnya dalam sektor nonmigas, Indonesia menderita defisit sebesar USD10,234 miliar dari negeri Tirai Bambu tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan pada Senin, Tiongkok menjadi negara pemasok barang impor terbesar Indonesia untuk periode Januari-September tahun ini dengan besaran USD24,81 miliar atau 26,07 persen dari total impor nonmigas.
Sementara ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok sebesar USD14,57 miliar atau 13,02 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.
“Perlu evaluasi jenis barang yang kita impor dari Tiongkok untuk mengurangi defisit,” ujar dia.
Indonesia banyak mengimpor besi, baja, plastik, barang-barang plastik, dan mesin dari Tiongkok. Bila tidak ingin terus menerus defisit, Suhariyanto mengatakan, nilai tambah produk-produk Indonesia perlu ditingkatkan.
Indonesia banyak mengekspor Crude Palm Oil, produk karet, dan besi sebagai produk unggulan, namun masih dalam bentuk belum terolah.
“Produk ekspor kita harusnya bisa diolah dulu di dalam negeri untuk memberikan nilai tambah dan daya saing agar lebih kompetitif,” jelas Suhariyanto.
Selain itu, Suhariyanto juga menyebut regulasi dan kebijakan pemerintah harus terus diperbaiki, meskipun secara perlahan mulai dibenahi.
Selain Tiongkok, Suhariyanto menyebut negara pemasok impor nonmigas terbesar Indonesia adalah Jepang dengan nilai USD10,9 miliar (11,46 persen) dan Thailand sebesar USD6,89 miliar (7,24 persen).
Impor nonmigas Indonesia asal negara-negara ASEAN sebesar 20,61 persen, sementara dari Uni Eropa sebesar 9,43 persen dari total impor nonmigas.
Lebih lanjut, Suhariyanto menyebut Indonesia juga masih mengalami defisit perdagangan nonmigas dengan Thailand sebesar USD2,84 miliar dan Australia sebesar USD2,383 miliar.
Meskipun begitu, Indonesia juga memiliki catatan perdagangan yang baik dengan mencatatkan surplus terbesar dari Belanda dengan nilai USD 2,31 miliar, Amerika Serikat USD 7,17 miliar, dan India sebesar USD 7,56 miliar.