Turkiye mendorong agar Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP31) yang akan digelar di Antalya pada November mendatang menjadi ajang yang berfokus pada pelaksanaan nyata berbagai komitmen iklim global, kata Menteri Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Turkiye Murat Kurum.
Berbicara dalam Climate Action Week di London, Kurum menyatakan harapannya agar COP31 di kota pesisir Mediterania tersebut mampu menghasilkan langkah-langkah konkret yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Kurum, yang tahun ini menjabat sebagai Presiden COP31, mengatakan komunitas internasional saat ini menghadapi berbagai krisis yang saling tumpang tindih, mulai dari dampak ekonomi konflik yang masih dirasakan secara global, meningkatnya beban utang, hingga risiko perubahan iklim yang semakin mahal untuk ditangani.
Ia mengatakan negara-negara juga menghadapi ancaman fenomena cuaca El Nino yang menurut berbagai penelitian berpotensi menimbulkan kerugian hingga sekitar 5 triliun dolar AS.
Menurut Kurum, tahun ini berpotensi menjadi tahun El Nino dengan biaya ekonomi terbesar dalam sejarah, meskipun perhitungan tersebut belum memasukkan dampak paling berat, yakni hilangnya nyawa manusia.
Dalam situasi tersebut, Turkiye meyakini KTT di Antalya dapat membantu mengubah arah upaya iklim global melalui agenda yang jelas dan praktis.
Kurum mengatakan kepresidenan COP31 Turkiye telah mendengarkan berbagai masukan dari para pihak, mengevaluasi area yang memungkinkan kemajuan, serta mengidentifikasi sektor-sektor yang memerlukan tindakan mendesak.
Menurut dia, kepresidenan COP31 kini telah menyusun agenda yang berfokus pada hasil nyata.
Elektrifikasi dan pembiayaan iklim menjadi prioritas utama
Kurum mengatakan prioritas utama COP31 mencakup elektrifikasi, pengelolaan limbah, kota tangguh, industrialisasi hijau, pembiayaan iklim, dan pendidikan iklim.
Ia menjelaskan bahwa elektrifikasi menjadi salah satu tema utama karena berkaitan langsung dengan berbagai keputusan ekonomi masyarakat sehari-hari, seperti kendaraan yang digunakan, sistem pemanas rumah, hingga upaya menekan biaya energi.
Turkiye ingin mendorong pembahasan global mengenai target agar listrik menyumbang 35 persen dari konsumsi energi final dunia pada 2035.
Target tersebut akan membutuhkan percepatan elektrifikasi di sektor transportasi, bangunan, dan industri, sekaligus peningkatan pasokan energi bersih untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik.
Menurut Kurum, sistem energi yang aman dan berkelanjutan hanya dapat terwujud jika elektrifikasi dan energi terbarukan berkembang secara bersamaan.
Ia juga menekankan pentingnya pembiayaan iklim dan menegaskan bahwa negara berkembang harus memiliki akses terhadap pendanaan yang diperlukan untuk mencapai target iklim bersama.
Kurum mengingatkan bahwa negara-negara telah menyepakati target mobilisasi dana iklim sedikitnya 300 miliar dolar AS per tahun hingga 2035 dalam Tujuan Pembiayaan Baku, namun bantuan pembangunan luar negeri justru mencatat penurunan tahunan terbesar pada tahun lalu.
Menurut dia, keberhasilan transisi iklim sangat bergantung pada kemampuan negara berkembang memperoleh sumber daya keuangan yang dibutuhkan untuk melaksanakan target bersama.
Limbah dan kota tangguh juga menjadi fokus
Di sektor limbah, Kurum mengatakan Turkiye mengusulkan target global untuk mengurangi setengah laju peningkatan produksi limbah pada 2035.
Ia menyebut pengurangan emisi metana dari tempat pembuangan akhir merupakan salah satu cara tercepat dan paling praktis untuk memperlambat pemanasan global, mengingat sektor limbah menyumbang sekitar 20 persen emisi metana yang berasal dari aktivitas manusia.
Kurum juga mengatakan pembangunan kota tangguh akan menjadi salah satu prioritas utama Turkiye pada COP31, dengan merujuk pada pengalaman rekonstruksi pascagempa besar yang melanda negara itu pada 2023.
Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, Turkiye berhasil membangun kembali 455 ribu rumah dalam dua tahun, kata Kurum.
Ia menambahkan bahwa rumah-rumah baru tersebut memenuhi standar efisiensi energi yang tinggi dan mampu mengurangi konsumsi energi hingga 39 persen.
Menurut Kurum, hal itu penting bukan hanya bagi kebijakan iklim, tetapi juga untuk melindungi masyarakat dari kenaikan harga energi.
Turkiye juga ingin COP31 membahas target pengurangan intensitas konsumsi energi di sektor bangunan sedikitnya 25 persen pada 2035.
Industrialisasi hijau menjadi agenda penting lainnya yang ingin didorong Turkiye, dengan elektrifikasi sebagai salah satu elemen utama dalam proses tersebut.
Kurum mengatakan COP31 juga akan membahas peningkatan penggunaan material daur ulang dalam proses produksi dan manufaktur hingga sedikitnya 15 persen pada 2035.
Ia menambahkan bahwa Turkiye akan meluncurkan inisiatif Climate Implementation Bridge yang bertujuan memperkuat keselarasan antara target iklim dan kebijakan pembangunan ekonomi, khususnya di negara berkembang dan negara kurang berkembang.
Kurum juga menyoroti pentingnya literasi iklim karena kesadaran publik dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga dukungan masyarakat terhadap aksi iklim.
Turkiye ingin isu perubahan iklim masuk ke dalam kurikulum pendidikan di lebih banyak negara pada 2030.
Ia menambahkan bahwa Turkiye telah meluncurkan COP31 Business Forum bersama Persatuan Kamar Dagang dan Bursa Komoditas Turkiye (TOBB) guna meningkatkan partisipasi sektor bisnis menjelang Business Summit yang akan digelar di Antalya pada 12-13 November.
Forum tersebut akan menjadi platform sepanjang tahun untuk memperkuat keterlibatan sektor swasta dalam proses COP31.
Kurum menyerukan kepada pemerintah, pelaku usaha, organisasi masyarakat sipil, dan lembaga filantropi untuk mendukung berbagai prioritas yang ditetapkan kepresidenan COP31 Turkiye.
Ia menegaskan bahwa KTT di Antalya harus menjadi konferensi yang berorientasi masa depan dan berfokus pada implementasi, seraya menekankan perlunya aksi global yang lebih kuat untuk menghasilkan kemajuan nyata.