Erric Permana
09 Oktober 2017•Update: 10 Oktober 2017
Erric Permana
JAKARTA
Dari 74 anak yang kembali setelah mengikuti orang tuanya untuk bergabung dengan kelompok teroris al-Dawla al- Islamiya al-Iraq wa al-Sham (Daesh) di Suriah, sebagian di antaranya masih terpapar radikalisme saat tiba di Indonesia.
Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial (Kemensos) Nahar mengatakan 74 anak tersebut dibawa orang tuanya ke Turki untuk menyeberang ke Suriah dan diduga untuk bergabung dengan Daesh.
“Sebelum menyeberang [dari Turki ke Suriah] mereka tersisir oleh pihak imigrasi Turki, dan dideportasi [ke Indonesia],” ujar Nahar saat dihubungi Anadolu Agency pada Senin.
Nahar mengatakan anak-anak tersebut terpaksa tidak sekolah dan tidak memiliki dokumen kependudukan seperti akta kelahiran karena mengikuti orang tuanya. Bahkan dari mereka tidak mau melanjutkan ke sekolah formal setelah pulang ke Indonesia.
“Dari caranya berbicara masih kelihatan [terkena radikalisme], karakternya berbeda ketika pertama bertemu anak-anak lainnya,” tambah dia.
Anak yang dibawa orang tuanya ke Turki untuk bergabung dengan Daesh berusia 2 bulan hingga 17 tahun.
Meski demikian, Nahar mengklaim anak-anak tersebut bersih dari radikalisme setelah direhabilitasi selama sebulan dan kemudian kembali ke rumah masing-masing.
“Mereka sudah mau bersekolah,” kata dia.
Kemensos mengatakan hingga kini belum ada laporan negatif mengenai anak-anak tersebut.
“Jika mereka ada kesulitan di sekolah masing-masing, mereka bisa melapor, kita akan mengadvokasi,” kata Nahar.
Sepanjang 2017, ada sekitar 161 WNI yang dideportasi dari Turki karena diduga akan bergabung dengan kelompok teroris Daesh di Suriah. Dari 161 tersebut, 74 di antaranya merupakan anak-anak.