Erric Permana
14 Februari 2019•Update: 18 Februari 2019
Erric Permana
JAKARTA
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius mempertanyakan bukti tuduhan Pemerintah Filipina yang menyebut adanya keterlibatan WNI terkait bom di gereja katolik di Jolo, Filipina beberapa waktu lalu.
Suhardi Alius mengatakan dirinya telah mengirimkan tim untuk memastikan adanya keterlibatan WNI dalam aksi bom tersebut. Namun, nihil.
"Darimana buktinya tidak bisa dibuktikan darimana sumbernya," kata Suhardi Alius di Jakarta kepada Anadolu Agency pada Kamis.
Suhardi pun mengaku telah meminta keterangan kepada WNI yang pernah disandera oleh Kelompok Abu Sayyaf untuk memastikan adanya warga Indonesia yang menjadi kelompok teror tersebut.
"Tidak ada keterangan [WNI pasutri kelompok Abu Sayyaf] itu," tambah dia.
Namun, berdasarkan catatannya WNI yang menjadi kelompok Abu Sayyaf saat ini kurang lebih berjumlah 25 orang. Tetapi jumlah itu kata Suhardi bisa saja bertambah.
Dirinya saat ini mengaku sedang bekerja sama dengan Detasemen Khusus Anti Teror 88 untuk mencegah WNI ke FIlipina menjadi bagian dari Kelompok Abu Sayyaf.
"Memfilter kalau bisa jangan berangkat ke daerah konflik, jadi pencegahan lebih bagus daripada mereka masuk daerah konflik susah," pungkas Suhardi.
Sebelumnya, 22 orang tewas dan lebih dari 100 warga sipil dan aparat keamanan terluka akibat bom ganda yang meledak di Gereja Jolo, Sulu pada akhir Januari lalu.
Bom pertama meledak di dalam gereja Katedral Marian of Our Lady of Mount Carmel saat misa sedang berlangsung pada sekitar jam 8.45 waktu setempat.
Bom kedua meledak di tempat parkir Katedral saat pasukan keamanan berusaha mengatasi ledakan bom pertama.
Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo sebelumnya mengatakan pembom bunuh diri asal Indonesia berada di balik ledakan ganda terhadap gereja di Jolo, Sulu.
Ano mengatakan pelaku bom bunuh diri asal Indonesia itu adalah pasangan suami istri yang memiliki hubungan dengan Daesh.
“Yang benar-benar bertanggung jawab adalah pembom bunuh diri Indonesia. Tetapi Abu Sayyaf yang membimbing mereka, mempelajari target, melakukan pengintaian, pengawasan, dan membawa pasangan itu ke gereja,” ujar Ano.
Pasangan itu disebut-sebut dibantu oleh Kelompok Abu Sayyaf untuk menjalankan aksinya.