Maria Elisa Hospita
27 Agustus 2018•Update: 28 Agustus 2018
Mehmet Tosun, Aynur Ekiz, Selma Kasap
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa "masalah" negara bukan tentang dirinya maupun partainya, namun tentang "Turki dan Islam".
Saat berpidato dalam peringatan Petempuran Malazgirt ke-947 di provinsi Mus, Erdogan menekankan bahwa keamanan Turki tidak terbatas pada perbatasannya saja, melainkan juga jika negara tetangganya berada di bawah ancaman.
“Jadi, kita harus kuat dalam politik, diplomasi, ekonomi, perdagangan, dan teknologi. Jika tidak, mereka tak akan memberi kita satu hari pun untuk hidup di dunia ini,” tegas Erdogan.
"Jika kita menunjukkan sedikit kelemahan, kita akan menyaksikan mereka mendatangi kita seperti kerumunan burung gagak," tambah dia.
Erdogan menganggap bahwa masih banyak yang menganggap masalah negara hanya berkutat pada pemimpin negara dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa.
“Tidak, masalahnya tentang Turki, tentang Islam, yang mereka simboliskan dengan bangsa kita,” kata dia lagi.
Pertempuran Malazgirt
Presiden Turki mengapresiasi kemenangan Turki di Anatolia hampir satu milenium lalu, dengan mengatakan bahwa Pertempuran Malazgirt (Manzikert) membuka jalan ke Eropa bagi Turki.
Selama Pertempuran Malazgirt pada 26 Agustus 1071, pasukan Seljuk Turki yang dipimpin oleh Sultan Alparslan mengalahkan tentara Bizantium, sehingga wilayah Anatolia kemudian diambil alih oleh Turki.
Erdogan juga menggambarkan Anatolia sebagai tonggak masa depan manusia. "Jika Anatolia jatuh, baik Timur Tengah maupun Afrika, Asia Tengah, Balkan, ataupun Kaukasus tidak akan ada," ujar dia.
Dia juga meminta pemuda-pemudi Turki untuk melestarikan warisan negara itu.
“Kewajiban itu tidak hanya milik mereka yang menang di [Pertempuran] Malazgirt, namun juga orang-orang muda, lindungilah warisan masa lalu!" kata Erdogan.
Erdogan juga mengatakan semangat Malazgirt adalah kunci untuk masa lalu, sekaligus masa depan, mengacu pada tujuan-tujuan Turki 2023.
"Turki memikul tanggung jawab peradaban besar, sejarah besar, dan kemanusiaan yang hebat. Saya mengharapkan Anda [kaum muda] untuk menguasai bidang apapun yang Anda pilih," tambah presiden.
Dalam acara peringatan itu, Ketua Parlemen Turki dan mantan Perdana Menteri Binali Yildirim juga hadir dan menyampaikan pidato.
"Mereka tak akan pernah berhasil," kata dia, merujuk pada pihak-pihak yang berupaya menghancurkan kesatuan Turki.
"Di Turki, upaya kudeta ekonomi ataupun upaya kudeta 15 Juli 2016 yang dilancarkan oleh pengkhianat tidak pernah membuahkan hasil, dan tak akan pernah berhasil di masa depan," tegas Yildirim.
Dalam kesempatan itu, Yildirim juga menyerukan upaya untuk rujuk dengan Amerika Serikat.
Ketegangan politik antara Ankara dan Washington telah menyebabkan kekacauan pasar pada awal bulan ini, setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tarif impor atas produk-produk Turki, karena Turki menahan pastor Amerika yang menghadapi tuduhan terkait terorisme di Turki.
Lira Turki sempat melemah, namun baru-baru ini berhasil pulih setelah Eropa dan Qatar memutuskan untuk menginvestasikan USD15 miliar di Turki.
*Cansu Dikme, Nilay Kar, dan Faruk Zorlu turut melaporkan dari Ankara