16 Agustus 2017•Update: 16 Agustus 2017
Sorwar Alam
ANKARA
Kedutaan Besar Bangladesh di Turki pada Selasa memperingati Hari Berkabung Nasional dan 42 tahun sejak pembunuhan Bapak Negara Bangladesh.
Bangabandhu Sheikh Mujibur Rahman, perdana menteri pertama negara itu, beserta keluarganya dibunuh hanya 4 tahun setelah Bangladesh merdeka.
Dia dianggap arsitek utama dalam mencapai kemerdekaan sebagai tokoh penting dalam perjuangan melawan Pakistan pada 1971.
“Kami kehilangan bapak negara pada 15 Agustus 1975, namun kita belum kehilangan aspirasinya,” kata Duta Besar Bangladesh di Ankara M. Allama Siddiki, kepada kerumunan sekitar 150 tamu.
Dia mengatakan Sheikh Mujib merupakan pria yang mendambakan Bangladesh mencapai kedamaian dan kemakmuran. “Dia seorang pemimpi, seorang visioner dan mampu menjalin hubungan psikologis dengan warganya.”
Sheikh Mujib, demikian panggilannya di Bangladesh, sangat “praktis” dan “pragmatis” serta mengulurkan tangan persahabatan ke semua negara, juga mereka yang menentang kemerdekaannya bangsanya, jelas Siddiki.
Contoh sifat pragmatisnya itu diikuti pemerintahan Bangladesh sekarang yang mencoba menerapkan kebijakan “hidup berdampingan secara damai” dengan negara-negara lain, lanjut Siddiki.
Hubungan Dhaka dengan Ankara, yang tegang dalam beberapa tahun belakangan, akan diperbaiki, menurut Duta Besar.
“Saya yakin masa-masa positif akan datang dalam waktu dekat. Dalam bidang kerjasama ekonomi, kami mengharapkan masa depan yang cemerlang bagi dua negara ini,” katanya.
Siddiki menekankan bahwa Turki dan Bangladesh bersaudara meskipun terletak sangat jauh.
Acara peringatan di Kedutaan Besar Bangladesh itu juga dihadiri Gurol Baba dari Departemen Hubungan Internasional Ankara Social Sciences University, Pemimpin Redaksi Bahasa Asing Anadolu Agency Mehmet Ozturk, serta sejumlah akademisi dan ekspatriat asal Bangladesh.