Iqbal
14 September 2017•Update: 15 September 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia akan memanfaatkan ajang sidang majelis umum PBB ke-72, pada 18 hingga 25 September mendatang di New York, untuk meraih dukungan menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Dari 193 negara anggota PBB, setidaknya Indonesia membutuhkan dukungan dari 129 negara agar bisa terpilih. “Sampai saat in sudah cukup banyak dukungan tertulis dan lisan dari berbagai negara untuk Indonesia,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Armanatha Nasir di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan, Indonesia bakal terus berupaya melampaui jumlah minimal dukungan yang diperlukan itu agar dapat terpilih.
Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu rencananya akan menghadiri 200 kegiatan dan pertemuan. Wapres juga akan menghadiri 10 pertemuan resmi di luar pertemuan bilateral.
Sementara itu untuk pertemuan bilateral, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi diagendakan bertemu dengan 70 negara. Jumlah negara dalam pertemuan bilateral ini dua kali lebih besar dari tahun lalu.
Pertemuan-pertemuan tersebut tentunya akan dimanfaatkan untuk meraih dukungan menjadi anggota tidak tetap DK PBB. Jika terpilih nanti, Indonesia akan membawa pengalaman dalam menciptakan ekosistem perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara ke tingkat global.
“Selain itu, isu peace keeping dan peace building termasuk mendorong perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah khususnya Palestina,” kata Armanatha.
Isu lain yang akan dikembangkan Indonesia adalah peningkatan sinergi antara perdamaian dan stabilitas demi keberlangsungan pembangunan yang berkelanjutan khususnya di Afrika.
Fokus Indonesia selanjutnya mendorong kerja sama global untuk memerangi terorisme, radikalisme, dan ekstremisme.
“Kita akan berbagi pengalaman dalam menggunakan comprehensive approach antara soft power dan hard power untuk melawan terorisme,” lanjutnya.
Sementara itu, dalam upaya membantu keamanan dan stabilitas global, Indonesia berkomitmen untuk menyediakan 4000 personel pasukan keamanan PBB pada tahun 2019 mendatang.
“Saat ini pasukan kita sekitar 2800 yang merupakan terbanyak kedelapan di dunia,” ujar Armanatha.