Iqbal Musyaffa
19 September 2017•Update: 19 September 2017
JAKARTA
Indonesia dan Norwegia menginisiasi Pertemuan Tingkat Menteri mengenai bina perdamaian dalam Sidang Majlis Umum PBB ke 72 di New York, pada Senin waktu setempat.
Dalam pertemuan bertema Peran Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular untuk Meningkatkan Kapasitas dalam Mendukung Pembangunan Paska Perdamaian itu, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan tantangan terbesar dalam pembangunan negara paska konflik adalah memastikan adanya pendaaan yang cepat dan memadai.
“Dibutuhkan kerja sama global yang kreatif dan inovatif,” ujar Menteri Retno, seperti dalam siaran persnya, Selasa.
Semua negara, kata Retno, harus berkontribusi. Negara maju harus memenuhi komitmennya dan menarik sektor swasta untuk membantu pembangunan di negara paska konflik.
“Mencapai perdamaian itu sulit, memelihara perdamaian jauh lebih sulit,” tegas Retno.
Pertemuan tersebut dihadiri negara anggota Komisi Bina Perdamaian PBB, perwakilan Sekjen PBB dan negara paska konflik.
Indonesia dan Norwegia aktif soal isu pendanaan di bawah Komisi Bina Perdamaian PBB dan aktif mendukung pembangunan paska konflik di negara berkembang.
Sejak 2016, Indonesia telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 40 orang dari sejumlah negara. Indonesia juga merencanakan pemberian bantuan kepada lebih dari 20 negara dan penguatan kemitraan dengan Afrika mellaui Forum Indonesia-Afrika April 2018 mendatang.
Pertemuan tersebut berhasil mengidentifikasi bantuan yang perlu dan siap diberikan oleh negara donor.
Dilaporkan oleh Iqbal Musyaffa, ditulis oleh Hayati Nupus