Haydar Hadi dan Idris Okuducu
BAGHDAD
Rakyat Irak mulai memberikan suaranya dalam pemilihan parlemen pertama negara itu pada Sabtu, setelah negara ini menyatakan kemenangannya terhadap kelompok teroris Daesh.
Tempat pemungutan suara dilakukan di seluruh negeri, termasuk ibu kota Baghdad dan wilayah Kurdi Irak utara. Pemilihan dibuka pada pukul 07.00 pagi waktu setempat (0400 GMT) dan akan ditutup pukul 7:00 malam. waktu setempat (1600 GMT).
"Rakyat Irak akan memutuskan masa depan negara mereka," kata Perdana Menteri Haidar al-Abadi kepada wartawan saat ia memberikan suaranya di distrik Karada di Baghdad tengah.
"Saya menyerukan partisipasi yang efektif dalam pemungutan suara," katanya.
Ketua Parlemen Salim al-Jabouri juga meminta para pemilih Irak untuk beramai-ramai menentukan pilihan dalam pemilihan parlemen.
"Partisipasi yang buruk akan membantu partai-partai tertentu yang tidak disukai oleh pemilih untuk mencapai posisi pengambilan keputusan," kata al-Jabouri saat memberikan suara di Baghdad.
Di wilayah Kurdi Irak utara, perdana menteri Pemerintah Daerah Kurdi (KRG), Nechirvan Barzani, mengatakan proses politik Irak tidak akan berhasil tanpa partisipasi Kurdi dalam pemerintahan mendatang.
"Tidak ada partai yang bisa membentuk pemerintahan tanpa aliansi," kata Barzani saat dia memberikan suaranya di Erbil di Irak utara.
"Saya tidak berpikir proses politik di Irak akan berhasil tanpa partisipasi Kurdi dalam pemerintahan mendatang."
Menurut komisi pemilihan Irak, pemungutan suara berlangsung dengan lancar di semua provinsi.
Serangan saat pemilihan
Sementara itu, enam orang tewas dalam serangan militan di sejumlah pos pemeriksaan keamanan di provinsi Kirkuk utara pada hari Sabtu.
Berbicara kepada Anadolu Agency, Kapten Polisi Hamed al-Obaidi mengatakan militan Daesh menyerang pos pemeriksaan keamanan yang dijaga oleh polisi Irak dan pejuang-pejuang Hashd al-Shaabi pro-pemerintah di distrik al-Rashad di Kirkuk.
"Empat polisi dan dua pejuang pro-pemerintah tewas dalam serangan itu," katanya.
Empat orang juga terluka ketika tembakan mortir menghantam dekat sebuah tempat pemungutan suara di provinsi Diyala di Irak timur.
Sejumlah pria bersenjata juga berusaha menyerang para pemilih di distrik itu, yang kemudian memicu bentrokan dengan pasukan keamanan, katanya. Tidak ada cedera yang dilaporkan.
Pasukan keamanan juga menembak mati dua pelaku pengeboman sebelum mereka meledakkan sabuk peledak mereka di dekat tempat pemungutan suara di Diyala dan Kirkuk.
Pemilihan pada hari ini adalah agenda politik pertama negara itu sejak Daesh secara meyakinkan dikalahkan pada akhir tahun lalu, setelah sebelumnya mereka menduduki sebagian besar wilayah Irak utara dan barat pada pertengahan 2014.
Sekitar 24 juta orang - dari sekitar 37 juta penduduk Irak yang kuat - memenuhi syarat untuk memberikan suara pada pemilihan.
Pemilihan umum ini sedang berlangsung di bawah bayang-bayang krisis ekonomi, kembalinya ribuan pengungsi, polarisasi politik dan keamanan yang tak menentu.