Kyaw Ye Lynn
21 September 2017•Update: 21 September 2017
Kyaw Ye Lynn
YANGON, Myanmar
Sekitar 300 umat Buddha Rakhine dikabarkan berusaha menghancurkan kapal yang memuat bantuan untuk para pengungsi di wilayah sebelah barat Rakhine. Kabar tersebut disampaikan oleh pemerintah Myanmar pada Kamis, waktu setempat.
Kericuhan dikabarkan bermula ketika sekitar 50 orang massa memaksa petugas dari Komite Palang Merah Internasional (ICRC) untuk membongkar paket-paket bantuan dari sebuah kapal di sebuah dermaga di Ibu Kota negara bagian Rakhine, Sittway, pada Rabu malam.
Dari keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Penasihat Negara Bagian Aung San Suu Kyi, dikatakan bahwa delapan orang kini telah ditahan dan diinterogasi oleh polisi.
Polisi berhasil membubarkan kericuhan pada malam itu setelah menurunkan beberapa mobil water cannon.
Seorang petugas kepolisian mengatakan kepada Anadolu Agency, ratusan massa juga sempat terlihat menyerang aparat dengan bom molotov dan menghujani petugas dengan tembakan ketapel.
“Syukurnya, perahu yang membawa bantuan itu tidak rusak parah karena adanya api. Tidak ada polisi yang terluka dalam kejadian ini,” ujar polisi yang enggan menyebut nama atas alasan keamanan itu.
Saat kericuhan tersebut, dia menambahkan, beberapa orang juga terlihat menyerang langsung polisi. Besar kemungkinan, kata dia, keributan terjadi karena adanya rumor yang menyebut bantuan pangan itu hanya dikirim untuk warga muslim Rohingya.
“Sangat jelas bahwa sentimen anti-LSM meningkat sejak serangan 25 Agustus,” kata petugas tersebut, yang juga menambahkan bahwa sebagian besar pengungsi Rakhine saat ini menolak untuk menerima bantuan dari LSM.