Islamuddin Sajid
ISLAMABAD, Pakistan
Gerakan ekstrem kanan-jauh baru telah muncul di Pakistan.
Partai politik yang baru dibentuk dan dipimpin oleh ulama garis keras Hafiz Saeed dan Khadim Hussain Rizvi telah menyebar ratusan nama kandidat untuk memperebutkan kursi di majelis nasional dan provinsi dalam pemilihan umum 25 Juli mendatang.
Rizvi, ulama berkursi roda yang beraliran Sunni-Barelvi, mengepalai Partai Tehreek-i-Labbaik Pakistan (TLP), partai politik yang melakukan kampanyanya di seputar hukum penodaan agama kontroversial -- yang dipakai untuk menghukum mati orang-orang yang diduga menghina Nabi Muhammad.
Partai ini berhasil mencalonkan 744 kandidat.
Nama Rizvi menjadi terkenal setelah dia memimpin protes selama tiga minggu yang melumpuhkan Islamabad dan kota tentangganya, Rawalpindi, untuk menolak amandemen konstitusional terhadap undang-undang yang mengharuskan pejabat terpilih untuk bersumpah bahwa mereka mempercayai Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.
Zahir Hamid, yang kala itu menjabat sebagai menteri hukum dan disalahkan atas amandemen tersebut, mundur dari jabatannya setelah protes besar-besaran itu.
Dalam kampanye politiknya, dia juga kerap memuji Mumtaz Qadri, yang dihukum gantung pada 2016 setelah didakwa pengadilan atas pembunuhan Salman Taseer, gubernur Provinsi Punjab.
Taseer secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada seorang wanita Kristen yang dihukum mati karena kasus penodaan agama. Qadri, bodyguard-nya, menembaknya sampai mati dan menyerahkan diri ke polisi.
Rizvi tampak percaya diri akan memenangi beberapa kursi di pemilu nanti.
"Saya yakin kebanyakan orang di Punjab akan memberikan suara untuk kandidat kami dan mereka akan menang. Tapi kami tidak akan membuat aliansi dengan partai-partai yang anggotanya duduk di parlemen saat terjadi amandemen UU Pemilu," kata dia kepada anggota partainya dalam pertemuan di Rawalpindi pada Sabtu.
Meskipun partai Rizvi tak menang di pemilihan sela pada 2017, mereka mengamankan ribuan suara di kota-kota Peshawar dan Lahore, serta memberikan kompetisi keras terhadap partai politik mainstream lainnya.
Sosok Hafiz Saeed
Saeed, yang mengetuai kelompok amal Jamaatud Dawa (JUD), dipercaya menjadi ujung tombak Lashkar-e-Taiba (LeT), kelompok militan yang aktif dalam konflik Jammu dan Kashmir. Partainya menominasikan 200 kandidat.
Partainya memulai kampanye pemilu dengan bendera Milli Muslim League (MML) namun kemudian mengubahnya menjadi Allah Akbar Tehreek (AAT), mengikuti keputusan komite pemilu.
Pada April 2018, Kementarian Luar Negeri AS menetapkan LeT sebagai kelompok teroris dan mengidentifikasi MML sebagai kelompok afiliasinya.
Saeed yang disalahkan atas serangan bom mematikan di Mumbai pada 2008, yang menewaskan 166 orang termasuk enam warga negara AS, dijatuhi hukuman rumah oleh Pakistan pada Januari lalu meski AS memprotesnya dengan keras.
Sebelas bulan kemudian dia dinyatakan bebas oleh pengadilan.
Pada 2012, AS mengumumkan imbalan USD10 juta untuk penangkapan Saeed.
Saeed menyangkal semua tuduhan keterlibatannya dengan serangan Mumbai.
Ceruk suara partai politik
Analis berkata kedua partai ini mendapatkan dukungan dari kelompok dengan pendapatan rendah di negara tersebut, dan mungkin mendapatkan ceruk suara dari mereka yang meragukan partai-partai politik mainstream.
Profesor Aijaz Khattak, seorang analis politik di Islamabad, berkata partisipasi kedua kelompok ini akan memberikan dampak negatif terhadap pendirian internasional Pakistan, dan semakin jauh menetapkan gambaran Pakistan yang tak cukup kuat melawan terorisme.
"Partisipasi kelompok ini dalam pemilu tidak hanya akan menimbulkan masalah untuk negara ini secara internasional, namun partai-partai ini juga secara fisik membahayakan kepemimpinan dan dukungan kepada partai mainstream di negara ini," kata dia.
Mohammad Ilyas Khan, jurnalis yang berbasis di Lahore, berkata, "Kedua partai memiliki posisi kuat di beberapa area di selatan dan atas Punjab, mereka bisa memenangi beberapa kursi di pemilu mendatang."
news_share_descriptionsubscription_contact


